CILEGON – Perlawanan rakyat Cilegon terhadap penjajahan Belanda pada 1888 tidak lepas dari kecerdikan strategi KH Wasyid dalam membaca situasi.
Lima tahun setelah letusan Gunung Krakatau pada 1883, ulama kharismatik tersebut memanfaatkan kondisi Belanda yang masih terdampak bencana untuk menggerakkan perlawanan rakyat.
Aksi yang kemudian dikenal dengan sebutan Geger Cilegon itu diawali dengan penyerbuan terhadap rumah Francois Dumas, seorang juru tulis asisten residen di Cilegon, pada Senin (9/7/1888) dini hari.
Sekitar 100 orang yang sebagian besar merupakan petani terlibat dalam penyerangan tersebut.
Mereka bergerak dari Seneja, tepatnya dari rumah Haji Ishak, sekitar pukul 02.00 WIB di bawah pimpinan KH Wasyid.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu catatan penting sejarah perjuangan rakyat Banten dalam melawan kolonialisme Belanda.
Gerakan perlawanan itu tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga strategi, koordinasi, serta kemampuan mengonsolidasikan masyarakat.
Dalam rangkaian peristiwa Geger Cilegon, sejumlah tokoh turut mengambil peran penting.
Di antaranya Lurah Jasim, seorang jaro Kajuruan, Haji Abdulgani, dan Haji Usman yang memimpin pasukan melawan kejahatan penjajah.
Operasi militer yang diinisiasi oleh gerakan tarekat KH. Wasyid itu bertujuan untuk membebaskan para pejuang yang ditahan Belanda.
Selain melakukan pembebasan tahanan, pasukan perlawanan juga menyasar sejumlah objek penting pemerintahan kolonial, seperti Kepatihan dan rumah asisten residen.
Serangan tersebut bertujuan melemahkan kekuatan dan kendali Belanda di wilayah Cilegon.
Kecerdikan KH Wasyid dalam membaca situasi pascaletusan Krakatau menjadi salah satu faktor penting dalam menyusun strategi perlawanan.
Kondisi ekonomi dan pemerintahan kolonial yang terdampak bencana dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat gerakan rakyat.
KH Wasyid lahir pada 1843 di Kampung Delingseng, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten.
Ia merupakan anak tunggal dari pasangan Kiai Muhammad Abbas dan Nyai Johariah.
Semangat perjuangan KH Wasyid tidak terlepas dari pengaruh sang ayah. Kiai Muhammad Abbas diketahui pernah terlibat dalam perlawanan bersenjata bersama Haji Wakhia pada 1850.
Pengalaman tersebut turut membentuk karakter perjuangan KH Wasyid dalam menghadapi penjajahan.
Selain cermat membaca momentum, KH Wasyid juga memiliki kemampuan membangun jaringan perlawanan melalui pendekatan keagamaan.
Ia memanfaatkan aktivitas tarekat sebagai ruang berkumpul bagi para ulama dan pengikutnya.
Melalui kegiatan tersebut, KH Wasyid bersama sejumlah kiai dapat bertemu untuk melaksanakan ibadah, salat, dan zikir sekaligus membangun komunikasi.
Pertemuan itu juga menjadi sarana membahas strategi, menyusun taktik, serta mengoordinasikan gerakan perlawanan terhadap Belanda.
Kemampuan KH Wasyid dalam menyampaikan pesan keagamaan turut memperkuat gerakan tersebut.
Ia menyebarkan propaganda yang berkaitan dengan jihad dan perang sabil untuk membangkitkan semangat masyarakat dalam menghadapi penjajah.
Pesan-pesan perjuangan itu kemudian dikapitalisasi menjadi kekuatan untuk menggerakkan perlawanan.
Dengan demikian, ajaran agama tidak hanya menjadi landasan spiritual, tetapi juga menjadi sarana membangun solidaritas dan keberanian rakyat.
Di luar kemampuan berdakwah dan mengorganisasi massa, KH Wasyid juga dikenal memiliki keterampilan bela diri pencak silat.
Ia bahkan menguasai kemampuan dalam mengumpulkan serta membuat persenjataan untuk mendukung perjuangan.
Namun, perjuangan KH Wasyid dalam melawan kolonialisme Belanda harus berakhir di medan perang.
Pada 30 Juli 1888, ia gugur bersama 30 orang lainnya, termasuk Haji Abdulgani, Haji Usman, dan Tubagus Usman. (*/ARAS)