CILEGON — Tingginya frekuensi banjir di sejumlah wilayah Kota Cilegon menjadi sorotan serius Komisi IV DPRD.
Ketua Komisi IV, Saiful Basri, menyebut banjir disebabkan tingginya sedimentasi dan tersumbatnya aliran kali dan sungai yang menjadi saluran pembuangan utama menuju laut.
“Untuk penanggulangan banjir yang memang setiap tahunnya itu menjadi keresahan buat warga, jadi setiap hujan itu, sekitar itu tergenang oleh banjir, setiap hujan itu mereka tidak tenang, terjadi genangan banjir sampai setinggi pinggang,” ujarnya, Selasa (1/7/2025).
Data BPS menunjukkan bahwa sepanjang 2024, 16 kelurahan di Cilegon terdampak banjir.
Sementara itu, menurut BPBD, hingga Februari 2025 telah terjadi 37 kasus banjir di berbagai titik di Cilegon.
Sebagai langkah cepat, Saiful bersama Lanal Banten, warga Link. Kalibaru, Pemerintah Kelurahan Gerem, KSB Kecamatan Grogol, Komisi IV DPRD, pengurus RT/RW, dan perwakilan industri menggelar aksi bersih-bersih dan pengerukan sedimentasi di Sungai Kalibaru, Komplek Pomal, Kecamatan Grogol.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program jangka pendek yang mengedepankan partisipasi masyarakat dan industri dalam penanganan banjir.
“Ada beberapa titik yang kita prioritaskan adalah wilayah-wilayah yang bisa kita tangani dengan program jangka pendek ini, jadi memang jika ada saluran dan kali-kali yang terjadi sedimentasi kita keruk juga bersama warga, kita coba giatkan juga edukasi terhadap masyarakat supaya tanggung jawab gotong royongnya itu bisa lebih besar lagi,” jelasnya.
Saiful juga mengungkapkan adanya koordinasi lintas sektor, termasuk dengan Dinas PU dan pihak industri.
“Kemarin Lurah Gerem Kecamatan Grogol minta komunikasi dengan saya untuk difasilitasi komunikasi dengan industri dan dinas terkait, saya komunikasi dengan Dinas PU untuk normalisasi kali,” katanya.
Ia menegaskan bahwa industri sekitar memiliki tanggung jawab dalam membantu menyelesaikan persoalan banjir.
“Termasuk dengan industri sekitar supaya ini menjadi industri bersama, karena tanggung jawab industri juga banjir di sekitar ini,” tambahnya.
Menurutnya, kondisi saluran air kini mengalami pendangkalan cukup parah. Beberapa jalur air bahkan terhambat karena berada di kawasan industri.
“Kalau dulu zaman saya kecil kedalaman airnya sampai 2 meter, tapi kalau sekarang paling tinggal 1 meter. Sepanjang kali ini, dinding-dinding kali ada industri juga, makanya kita minta kerja samanya dengan industri sekitar untuk membantu kegiatan yang dampak positifnya untuk masyarakat sendiri,” ungkapnya.
Saiful menjelaskan, pihaknya menyiapkan tiga skema program: jangka pendek, menengah, dan panjang.
“Kita ada 3 program, saluran-saluran kali ini dari hulunya sudah terjadi sedimentasi, dari sedimentasi ini menyebabkan pendangkalan. Jangka menengahnya karena ini terhubung juga dengan akses utama, ini jalan nasional, berhubung juga dengan beberapa kegiatan provinsi, nanti kita akan berhubungan juga dengan dinas di Kota Cilegon agar disambungkan dengan provinsi,” terangnya.
Ia menyoroti bahwa jalur air yang dulunya bermuara ke arah PT Dover Chemical kini sudah tidak berfungsi.
“Supaya jalur sepanjang ini dan kiri kanannya adalah industri dan ini sudah lama sekali, kalau dulu ada ujung kali ke arah Dover itu sekarang sudah tidak berfungsi, nanti akan disampaikan kepada provinsi dan didorong untuk normalisasi,” jelasnya.
Politisi PPP itu menegaskan bahwa komunikasi dengan Walikota akan terus diperkuat agar penanganan banjir masuk dalam agenda tahunan pemerintah.
“Kita bangun komunikasi juga dengan kepala daerah, dengan walikota supaya ada program di setiap tahunnya itu untuk coba menyelesaikan banjir di Kota Cilegon, kita akan komunikasi lebih intens lagi,” pungkasnya. (*/ARAS)