CILEGON – Ketua Komisi IV DPRD Kota Cilegon, Muhamad Saiful Basri, meminta Pemerintah Kota Cilegon segera melakukan normalisasi aliran Kali Gerem yang berada di Link. Gerem Raya, Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon.
Permintaan tersebut disampaikan Basri menyusul kondisi aliran sungai yang dinilai semakin memprihatinkan dan berpotensi menimbulkan banjir, terutama di tengah meningkatnya intensitas curah hujan dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut Basri, penanganan Kali Gerem membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah agar dampak banjir tidak terus berulang dan merugikan masyarakat sekitar.
“Saat sekarang musim penghujan ini, kita khawatir Gerem dilanda banjir lagi, aliran sungai terutama di wilayah ini banyak yang kurang optimal,” ujarnya, Senin (29/12/2025).
Ia menilai, penyempitan alur sungai dan tidak lancarnya aliran air menjadi salah satu faktor utama yang memperbesar risiko banjir di wilayah tersebut.
Di lapangan, aliran Kali Gerem terlihat tersumbat oleh tumpukan material kayu, sampah rumah tangga, serta sedimen lumpur.
Pada beberapa titik, sumbatan tersebut bahkan menutup sebagian besar badan sungai.
Basri menyampaikan bahwa persoalan banjir, sampah, dan infrastruktur lingkungan menjadi perhatian utama komisi yang dipimpinnya.
Usulan normalisasi sungai, kata dia, telah beberapa kali disampaikan kepada pemerintah daerah.
Ia berharap wilayah Kecamatan Grogol, khususnya Kelurahan Gerem, menjadi salah satu prioritas penanganan agar masyarakat tidak lagi dihantui ancaman banjir setiap musim hujan.
Upaya pembersihan secara swadaya juga sempat dilakukan oleh pihaknya bersama masyarakat, Muspika, TNI dan industri setempat, termasuk pengerukan aliran sungai secara sederhana. Namun, ia mengakui langkah tersebut belum cukup untuk mengatasi persoalan secara menyeluruh.
Basri menegaskan, keterbatasan kewenangan legislatif membuat penanganan teknis sepenuhnya bergantung pada peran dan kebijakan eksekutif.
Pada Senin (29/12/2025), upaya pembersihan material hanyutan di Kali Gerem juga dilakukan oleh Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Cilegon sebagai bentuk respons awal terhadap potensi banjir.
Persoalan banjir di wilayah Gerem sendiri telah berlangsung cukup lama dan kerap disebut sebagai persoalan klasik, yang dipicu oleh pendangkalan sungai dan sempitnya aliran air.
“Kami berharap normalisasi segera dilakukan agar aliran air terutama buangan air hujan tidak tersendat di kali,” ujarnya menambahkan.
Meski kegiatan pembersihan rutin kerap dilakukan, Basri menilai langkah tersebut belum mampu mengentaskan persoalan banjir secara optimal tanpa adanya normalisasi menyeluruh.
“Harusnya sudah ada studi lagi apakah sungai kita masih layak menampung seluruh limpahan air hujan, kita harus hitung debit maksimal dan daya dukung sungai di kita,” katanya.
Ia juga mendorong pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi aliran sungai dan jaringan perairan utama dari hulu hingga hilir.
“Jaringan drainase dan pembuangan rumah tangga di kawasan pemukiman juga harus dievaluasi, tahun 2026 mudah-mudahan anggaran bisa diprioritaskan ke penanganan banjir ini,” pungkasnya. (*/ARAS)