CILEGON – Harapan agar tokoh ulama pejuang asal Banten, KH Wasyid, mendapatkan gelar Pahlawan Nasional kembali disuarakan oleh salah satu keturunannya, Alwiyan bin Qosid bin Syam’un binti Siti Hajar bin KH Wasyid.
Menurutnya, jasa besar KH Wasyid dalam perjuangan melawan penjajahan dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia layak mendapat penghormatan setinggi-tingginya dari negara.
“Negara sangat mengapresiasi setinggi-tingginya kepada siapa saja yang berjasa kepada bangsa dan negara dengan menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional Indonesia,” ujar Alwiyan, Minggu (9/11/2025).
KH Wasyid dikenal sebagai salah satu tokoh sentral dalam peristiwa Geger Cilegon tahun 1888, sebuah pemberontakan besar yang dipimpin oleh para ulama dan masyarakat Banten terhadap penjajahan Belanda.
Perlawanan itu berawal dari penindasan dan ketidakadilan yang dilakukan pemerintah kolonial terhadap rakyat Banten, termasuk kebijakan yang menyinggung nilai-nilai keagamaan dan martabat umat Islam.
Dalam peristiwa tersebut, KH Wasyid bersama para ulama lain seperti KH Tubagus Ismail dan KH Wasiduddin menggerakkan rakyat untuk menentang kolonialisme melalui semangat jihad fi sabilillah.
Walau akhirnya pemberontakan tersebut berhasil ditumpas dan banyak tokoh ditangkap atau dihukum mati, perjuangan mereka dikenang sebagai simbol keberanian rakyat Banten dalam menegakkan kehormatan dan keadilan.
Kini, lebih dari seabad kemudian, perjuangan dan pengorbanan KH Wasyid masih hidup dalam ingatan masyarakat Banten.
Harapan agar Ki Wasyid diakui sebagai Pahlawan Nasional menjadi bentuk penghargaan moral sekaligus pengakuan sejarah atas perjuangan rakyat Banten dalam perjalanan panjang menuju kemerdekaan Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa KH Wasyid telah masuk dalam nominasi calon penerima gelar Pahlawan Nasional.
“Almarhum KH. Washid telah masuk nominasi calon penerima gelar pahlawan nasional, sebagai keturunannya, tentu berharap negara memberikan penghormatan yang sepantasnya kepada Alm. KH. Washid mengingat jasanya dalam perjuangan kemerdekaan,” katanya.
Alwiyan menambahkan, KH Wasyid sebenarnya telah menerima penghargaan dari negara berupa Bintang Mahaputera Utama pada tahun 2000.
“Untuk diketahui, bahwa KH. Wasyid pernah menerima penghargaan dari negara berupa Bintang Mahaputera Utama pada tahun 2000, semoga itu bisa menjadi pertimbangan selain data-data kesejarahan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa penghargaan ini bukan semata bentuk pencapaian pribadi, melainkan wujud penghormatan atas perjuangan seorang tokoh yang telah berkorban untuk kemerdekaan bangsa.
“Walau bukan gelar yang diperjuangkan oleh KH. Wasyid, tapi kita sebagai bangsa perlu memberikan penghormatan yang sepatutnya bagi pejuang bangsa ini,” tutur Alwiyan. (*/ARAS)