CILEGON – PT Pelabuhan Cilegon Mandiri (PCM) mengalami peningkatan performa bisnis yang signifikan, dari laporan keuangan 2024 pendapatan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Cilegon ini mencapai Rp.226.785.324.462.
Peningkatan pendapatan PT PCM di tahun 2024 ini meningkat dari tahun sebelumnya yang memperoleh Rp.138.276.078.176, sehingga laba bersih yang dihasilkan Rp.26.839.966.862 dengan bagi dividen untuk daerah atau pemilik modal sebesar Rp.16 Milyar.
“Meningkatnya pendapatan berbanding lurus dengan jumlah operasional yang harus dikeluarkan, dengan performa yang luar biasa ini PT PCM harus menambah beban operasional,” ujar Direktur Operasional PT PCM, Eko Didik Harnoko, Jumat (2/5/2025).
Lini bisnis yang dijalankan oleh PT PCM membutuhkan operasional yang terus meningkat sejalan dengan kebutuhan dan peningkatan performa bisnis, namun dengan bertumbuhnya usaha perusahaan tersebut maka berdampak langsung terhadap pembukaan laba yang semakin besar.
“Untuk bisnis PCM itu sama seperti seperti di bidang bisnis pada umumnya, semakin besar pendapatan maka beban operasional akan semakin meningkat. Namun yang terpenting persentase peningkatan pendapatan nya lebih besar dari pada peningkatan beban operasional, artinya ada efisiensi yang dilakukan oleh manajemen,” jelasnya.
Bisnis pandu tunda PCM di era manajemen saat ini memang sedang naik pesat, beberapa lini bisnis yang dijalankan juga termasuk Traffic Separation Scheme (TSS) atau skema pemisahan jalur lalu lintas kapal yang saat ini dikerjakan PT PCM di Selat Sunda menjadi sumber pendapatan yang mendongkrak keuntungan.
“Selain itu, masih banyak potensi bisnis di sektor kepelabuhan dan transportasi laut yang tengah dikaji oleh PT PCM yang sebelumnya belum pernah dilakukan,” tutur Didik.
Bisnis di kepelabuhan PT PCM saat ini juga mengalami beberapa tantangan, di antaranya adalah perbedaan tarif antara di wilayah Ciwandan-Merak dengan di Bojonegara, menurut PCM tarif di Kawasan perairan Bojonegara lebih murah karena sebagian besar pengguna jasa layanan adalah kapal lokal dengan tarif domestik, sementara di wilayah Ciwandan-Merak sebagian besar menggunakan tarif internasional yang pendapatan nya lebih tinggi dari domestik. (*/ARAS)