Komisi IV DPRD Dorong Kasus Banjir Jadi Isu Strategis di Rencana Kerja Pemkot Cilegon 

 

CILEGON – DPRD Kota Cilegon mendorong agar persoalan banjir dijadikan sebagai isu strategis dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Cilegon.

Hal tersebut dinilai penting mengingat dampak banjir yang terus dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah.

Ketua Komisi IV DPRD Kota Cilegon, Muhammad Saiful Basri, menyoroti dampak besar yang dirasakan warga setelah banjir kembali melanda beberapa kawasan di Kota Cilegon pada Sabtu (7/3/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Basri saat menghadiri Forum Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Cilegon yang digelar oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida).

Forum tersebut menjadi ruang diskusi bagi berbagai pemangku kepentingan untuk membahas isu-isu pembangunan daerah, termasuk penanganan banjir yang hingga kini masih menjadi persoalan di Kota Cilegon.

Menurut Basri, banjir yang terjadi meski hanya dalam waktu singkat dapat menimbulkan dampak yang berkepanjangan bagi masyarakat.

Ia menilai, kerugian yang dialami warga tidak hanya dirasakan saat banjir terjadi, tetapi juga setelah air surut.

Aktivitas masyarakat terganggu, sementara proses pemulihan ekonomi membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

“Masyarakat sedang suasana yang duka di beberapa tempat. Banjirnya satu hari, capeknya bisa satu minggu bahkan lebih, kan gitu. Dan kerugiannya bisa satu bulan bahkan satu tahun,” ujarnya, Senin (9/3/2026).

Basri menjelaskan bahwa dampak banjir sangat dirasakan masyarakat, terutama dari sisi aktivitas ekonomi sehari-hari yang terhenti akibat genangan air.

“Tapi kan banyak yang dirasakan dari sisi kerugian oleh masyarakat ya, dari aktivitas. Aktivitas mereka yang bekerja nggak bisa kerja, mereka yang berdagang nggak bisa berdagang, apalagi kalau misalnya dagangannya ada di rumah, ya dobel,” katanya.

Selain aktivitas ekonomi yang terganggu, masyarakat juga harus menghadapi kerusakan berbagai barang berharga akibat terendam banjir.

“Nah, di situ juga mereka punya aset. Aset yang mereka kumpulkan belum tentu satu tahun dapat gitu kan. Jadi sebenarnya sih apa ya miris, miris. Kemarin saya beberapa kali sampai saya sahur bareng juga,” tuturnya.

Basri mengaku beberapa kali turun langsung ke lokasi banjir untuk melihat kondisi warga yang terdampak.

Ia menilai, kehadiran para pejabat atau relawan di tengah masyarakat memberikan dukungan moral bagi warga.

“Padahal mereka dilihat saja sudah cukup senang gitu loh, diperhatiin saja sudah cukup senang. Dan mereka kan mengharapkan kedatangan ini bisa jadi satu solusi siapapun yang datang gitu,” ungkapnya.

Menurutnya, masyarakat tidak mempersoalkan siapa yang datang membantu mereka. Yang terpenting adalah adanya perhatian dan kepedulian di tengah situasi sulit yang mereka hadapi.

“Nggak melihat entah itu anggota Dewan, entah itu Wali Kota, siapapun orang-orang yang punya jiwa dermawan. Yang kalau dengan kondisi musibah seperti itu kan harapannya cuma dapat kiriman gitu,” lanjutnya.

Basri juga menggambarkan kerugian yang dialami warga akibat rusaknya berbagai barang kebutuhan rumah tangga yang selama ini mereka kumpulkan.

“Duh, ini saya ngumpulin belum tentu nih kebeli TV, kasur, baju lah kalau baju mending lah ya, gitu kan. Belum lagi surat-surat berharga,” katanya.

Ia menambahkan bahwa dirinya cukup aktif terlibat dalam upaya penanganan banjir di sejumlah wilayah, termasuk turun langsung membersihkan saluran air yang tersumbat.

“Makanya saya cukup lumayan cukup aktif saya masalah banjir, Ayah. Bahkan saya turun di statomer saya bersihin sendiri itu dari pomal. Karena baru menyampaikan, nah begitu saya kemarin datang ke sana lagi kan,” ujarnya.

Meski demikian, Basri menyadari bahwa upaya yang dilakukan secara individu tidak akan cukup untuk menyelesaikan persoalan banjir secara menyeluruh.

“Survei, itu kan kerendam semuanya. Saya bilang sedikit membantu tapi kalau cuma ada satu saya di kegiatan yang seperti itu, itu nggak ada apa-apanya,” katanya.

Basri juga menyoroti wilayah Ciwandan yang pada kejadian banjir terakhir relatif tidak terdampak.

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa solusi penanganan banjir sebenarnya dapat dilakukan jika ditangani secara serius.

“Melihat kondisi kemarin berarti Ciwandan nggak banjir kan ada solusi tuh kan berarti gitu. Nah, di daerah-daerah lain juga kan berarti bisa dilakukan. Kalau di Ciwandan saja sampai seperti itu kondisinya, apalagi cuma sekelas Metro,” pungkasnya. (*/ARAS)

Comments (0)
Add Comment