CILEGON – Di tengah gelaran Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kota Cilegon XXIV, kisah seorang pemuda bernama Muhammad Ade Firdaus menjadi sorotan sekaligus inspirasi bagi banyak orang.
Dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya—tidak memiliki tangan kiri dan kaki kanan—Ade justru tampil penuh percaya diri dan berhasil meraih juara kedua dalam cabang lomba tafsir golongan bahasa Inggris.
Kisahnya seakan menegaskan bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi alasan untuk berhenti bermimpi atau menyerah pada keadaan.
Ade membuktikan bahwa semangat dan kerja keras mampu menembus segala batas.
“Saya ikut lomba tafsir golongan bahasa Inggris, Alhamdulillah bagi saya keterbatasan fisik tidak membatasi otak saya untuk terus belajar,” ungkapnya dengan penuh keyakinan, Selasa, (30/9/2025).
Pemuda yang kini sedang menempuh pendidikan di Institut Agama Islam Banten itu juga menyampaikan harapannya agar bisa terus melanjutkan perjuangan menuntut ilmu.
“Mudah-mudahan bisa terus belajar dan menuntut ilmu lebih tinggi lagi dalam bidang apapun,” katanya.
Kehadiran Ade di ajang MTQ bukan hanya menambah semarak perlombaan, tetapi juga menghadirkan pelajaran berharga tentang arti keteguhan hati dan semangat juang.
Dalam dirinya tergambar pesan kemanusiaan bahwa semua orang, tanpa terkecuali, memiliki kesempatan yang sama untuk meraih prestasi.
Hal ini pun ditegaskan oleh Kepala Bagian Kesra Kota Cilegon, Rahmatullah. Menurutnya, panitia MTQ tidak pernah memberikan batasan bagi siapa pun yang ingin ikut serta, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik.
“Mohon maaf, kekurangan fisik tidak menghalangi untuk mengikuti lomba, kami memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh masyarakat Cilegon untuk berpartisipasi dalam kegiatan MTQ ini,” tambahnya.
Perjuangan Muhammad Ade Firdaus menjadi bukti nyata bahwa semangat, keyakinan, dan keinginan untuk belajar jauh lebih besar dari sekadar keterbatasan fisik.
Dari Cilegon, ia menghadirkan inspirasi yang tak hanya untuk para peserta MTQ, tetapi juga untuk masyarakat luas.***