Muhasabah Bencana Palu dan Donggala

*) Oleh: Sayuti Zakaria

SAHABAT yang dimuliakan Allah, Allah kembali menguji kita dengan gempa dan tsunami yang tejadi di Palu, Donggala dan Mamuju di Sulawesi Tengah yang terjadi pada tanggal 28 September 2018 menorehkan luka yang mendalam bagi saudara kita yang ada di sana.

Belum kering rasanya air mata duka Lombok, kini Allah menguji lagi saudara-saudara kita di Palu.

Sahabat, nagi kita umat Islam musibah datang bukan tanpa alasan. Bukan hanya gejala alam karena pergeseran lempeng bumi yang mengakibatkan terjadinya gempa dan tsunami. Tapi, bagi kita umat Islam semua kejadian yang terjadi di dunia ini tersimpan hikmah yang mendalam. Terjadinya musibah di Palu, Donggala dan Mamuju di Sulteng harusnya menjadi sarana muhasabah diri bagi kita umat Islam.

Menurut postingan yang beredar di beberapa media sosial ada salah satu yang menarik yaitu postingan dari salah satu kisah relawan yang bernama Dr Eka Erwansyah, dosen kedokteran Unhas anggota tim relawan Unhas yang menyebutkan Bencana Palu dalam pandangannya bukan hanya Bencana Luar Biasa, tapi Sungguh Sangat Lua Biasa.

Biasanya dalam suatu bencana hanya ada 1 atau 2 “pembunuh”. Biasanya gempa saja, atau gempa plus tsunami. Tapi, Bencana Aceh didahului gempa tapi “sang pembunuh” sebenarnya adalah hanya 1 yaitu tsunami. Nah di Palu ada tiga “Sang Pembunuh” menurut Dr Eka:
1. Gempa (banyak korban tertimbun reruntuhan bangunan).
2. Tsunami (sekitar 1000 orang di sekitar pantai sedang persiapan Festival Nomini tersapu oleh tsunami).
3. Lumpur (Ada perkampungan yang hilang akibat lumpur yang menyembur dari dalam bumi dan dalam sekejap menenggelamkan satu perkampungan. Diperkirakan sekitar 700 orang terkubur hidup-hidup. Ada juga sekitar 200 orang siswa SMA sedang kemah juga terkubur dalam lumpur yang tiba-tiba menyembur dan menimbun mereka).

Dr Eka menceritakan kebetulan pada saat itu dia dan teman-teman yang tergabung dalam Tim DVI Unhas sudah berada di lokasi sejak kemaren pagi. Kampung yang hilang itu Kampung Petobo, daerah Sigi. Kemarin saat menghimpun data ante mortem korban, ia mengaku tidak kuasa menahan tangis.

Seorang bapak yang melaporkan anaknya yang hilang. Dia curhat. Ketika itu antarkan anaknya mengaji. Rumahnya dan rumah tempat mengaji hanya dipisahkan oleh jembatan. Begitu anaknya didrop, dia balik ke rumahnya, baru mau masuk ke rumah tiba-tiba mendengar bunyi bbluuumm, dia balik badan dan hanya melihat hamparan tanah kosong berlumpur. Kemana perginya rumah-rumah satu perkampungan??? Hanya dalam hitungan detik.

Astagfirulloh, Pernahkan kita bertanya: kenapa Allah mengirimkan bencana kepada kita?, Adakah hikmah yang dapat kita ambil dari peristiwa terjadinya bencana?, Lantas apa yang kita lakukan setelah terjadinya bencana?.

Sahabat, banyak cara Allah menguji keimanan kita. Kita yakin bahwa semua yang terjadi atas kehendak Allah. Tidak ada sehelai daun pun yang jatuh ke bumi kecuali atas kehendakNYA. Yang menjadi catatan bagi kita adalah bagaimana sikap kita ketika Allah berikan ujian kepada kita, apakah kita kufur atau bersabar.

Segera bertaubat dan mengingat Allah dalam kondisi apapun adalah jalan terbaik yang seharusnya kita lakukan. Jangan sampai kondisi membuat kita semakin menjauh dari ketaatan kita kepada Allah.

Berdasarkan informasi yang beredar di media sosial tentang penjarahan di tengah bencana yang terjadi, seolah menjadi catatan yang kurang pantas dilakukan walaupun dalam kondisi sulit tidak dibenarkan kita melakukan perbuatan yang bertentangan dengan norma agama yang kita anut. Padahal Allah sudah mengingatkan kepada kita dalam Al-Qur’an Surat Yunus ayat 23;

فَلَمَّآ أَنجَٮٰهُمۡ إِذَا هُمۡ يَبۡغُونَ فِى ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ‌ۗ يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ إِنَّمَا بَغۡيُكُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُم‌ۖ مَّتَـٰعَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا‌ۖ ثُمَّ إِلَيۡنَا مَرۡجِعُكُمۡ فَنُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

“Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa [alasan] yang benar. Hai manusia, sesungguhnya [bencana] kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; [hasil kezalimanmu] itu hanyalah keni’matan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Semoga Allah memberi kesabaran kepada saudara-saudara kita di Palu, menjaga keimanannya sekalipun dalam kondisi sulit. Tetap istiqomah tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar norma-norma yang ada. Insha Allah ada hikmah yang dapat kita petik dari setiap peristiwa. (***)

*) Sayuti Zakaria adalah Ketua DPD Al-Khairiyah Kota Cilegon yang juga Kepala SMK-IT Al-Khairiyah
BencanaGempa Tsunami Palu
Comments (0)
Add Comment