CILEGON – Suasana hanggar barat Pasar Kranggot tampak lengang pasca penertiban pedagang yang biasa berjualan di akses jalan masuk pasar.
Sejumlah pedagang memilih untuk tidak berdagang sementara waktu karena merasa tempat relokasi yang disediakan pemerintah tidak mendukung aktivitas jual beli secara optimal.
Salah satu pedagang, Mulyani (43), mengungkapkan bahwa banyak pedagang enggan menempati los di hanggar lantaran desain dan tata letaknya dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan jenis dagangan mereka.
Meja yang berada di tengah-tengah los dinilai terlalu kecil dan tidak fleksibel untuk berjualan komoditas seperti pakaian atau sayuran.
Menurut Mulyani, desain meja yang tersedia di los hanggar hanya cocok digunakan untuk berjualan daging atau ikan, sementara pedagang pakaian maupun kebutuhan dapur kesulitan menata dagangan mereka di ruang terbatas tersebut.
“Itu kan mejanya kecil, pas aja kalo buat jual ikan, daging mah, yang jual-jual baju, celana kan ga muat itu,” ujar Mulyani, Sabtu (6/7/2025).
Selain soal ukuran dan tata letak, Mulyani juga menyoroti sepinya pengunjung di area hanggar tersebut.
Hal ini membuat para pedagang enggan menempati los yang disediakan dan memilih untuk sementara waktu tidak berdagang usai dilakukan penertiban oleh pihak pasar.
“Iya mas ini masih kosong, karena mejanya terlalu kecil, jadi pedagang pada libur enggak jualan setelah ada penertiban,” imbuhnya.
Senada dengan itu, Rahmat, pedagang lain di sekitar hanggar, juga menyampaikan hal serupa. Ia menilai lokasi dalam hanggar tidak strategis karena jarang dilalui pembeli.
Akibatnya, para pedagang merasa rugi jika tetap berjualan di lokasi tersebut.
“Setiap hari sepi di sini, paling sesekali orang lewat aja, kita sih inginnya di sini juga rame, kan sayang tempatnya kalau kosong,” ujar Rahmat.
Rahmat berharap agar pemerintah segera melakukan langkah-langkah yang dapat menghidupkan kembali aktivitas perdagangan di dalam hanggar.
Menurutnya, jika area tersebut ramai, para pedagang tidak perlu lagi berjualan di tepi jalan yang kerap menimbulkan kemacetan dan gangguan ketertiban.
“Kalau bisa gimana caranya agar disini juga ramai, jadi kita gak perlu lagi dagang di jalan, di sini aja cukup,” pungkasnya.
Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Cilegon menyatakan bahwa pihaknya sudah menerima aspirasi para pedagang dan saat ini sedang berupaya mencari solusi yang tepat.
Kabid Pasar Disperindag Kota Cilegon, Ahmad, menyebutkan bahwa pengaduan pedagang telah dibahas di internal dinas dan menjadi perhatian khusus.
Salah satu tindak lanjutnya adalah dengan berkoordinasi dengan Bidang Aset untuk membahas kemungkinan pembongkaran meja yang dianggap mengganggu fleksibilitas pedagang dalam berjualan.
Ahmad menjelaskan bahwa pihak Disperindag telah mengajukan permohonan resmi ke Bidang Aset di bawah Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKPAD) agar meja yang ada dapat diubah atau dibongkar sesuai kebutuhan pedagang.
“Pengajuan permohonan dari dinas (Disperindag-red) ke bagian asset, iya dari sekretariat dinas ke bidang asset BPKPAD,” ujarnya, Sabtu (6/7/2025). (*/ARAS)