CILEGON – Pemerintah Kota Cilegon menegaskan komitmennya untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan sampah setelah berakhirnya pendampingan program Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities Project (ISWMP).
Komitmen tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cilegon Ahmad Aziz Setia Ade Putra dalam forum ISWMP yang berlangsung di Bali pada Kamis (10/9/2026).
Forum tersebut menjadi ruang untuk membahas keberlanjutan program pengelolaan sampah sekaligus memastikan berbagai fasilitas dan sistem yang telah dibangun dapat terus dimanfaatkan pemerintah daerah.
Ikut dalam rombongan, Ketua Komisi IV DPRD Kota Cilegon, Muhammad Saiful Basri dan Kepala DLH Cilegon Sabri Mahyudin.
Aziz mengatakan, keberlanjutan program tidak hanya bergantung pada pembangunan sarana dan prasarana, tetapi juga membutuhkan dukungan pemerintah daerah melalui kebijakan, penganggaran, kelembagaan, serta keterlibatan masyarakat.
“Pemerintah Kota Cilegon berkomitmen kuat dalam mendukung keberlanjutan program ISWMP (Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities Project-red),” katanya.
Menurut dia, dukungan Pemkot Cilegon akan dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan berbagai aspek yang berkaitan langsung dengan pengelolaan sampah di daerah.
“Dukungan ini mencakup aspek pendanaan, regulasi, infrastruktur, hingga pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.
Salah satu bentuk keberlanjutan yang disiapkan adalah memastikan fasilitas pengelolaan sampah hasil dukungan program ISWMP tetap dapat dioperasikan setelah masa program berakhir.
“Pemkot Cilegon memastikan bahwa pendanaan hibah ISWMP berupa fasilitas pengelolaan sampah akan dilanjutkan dengan kesiapan anggaran pendamping daerah untuk operasional,” jelasnya.
Kesiapan anggaran tersebut juga diarahkan untuk menjamin fasilitas yang telah tersedia tidak berhenti beroperasi akibat keterbatasan biaya pemeliharaan.
Selain memperkuat dukungan terhadap fasilitas, Pemkot Cilegon juga mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya.
Upaya tersebut dilakukan melalui pilot project pemilahan sampah dari tingkat hulu, termasuk di lingkungan rukun tetangga (RT). Model tersebut diharapkan dapat menjadi contoh yang kemudian dikembangkan di wilayah lain.
Untuk memperluas penerapan pemilahan sampah berbasis masyarakat, pemerintah daerah menyiapkan penguatan edukasi hingga tingkat lingkungan.
“Membentuk tim edukasi untuk memperluas (replikasi) budaya pilah sampah ke wilayah RT/RW lainnya,” katanya.
Budaya memilah sampah juga diarahkan agar tidak hanya diterapkan di lingkungan permukiman, tetapi turut diperkuat melalui pendidikan dan pembiasaan di sekolah.
“Mengintegrasikan budaya pilah sampah dari rumah dan sekolah melalui kolaborasi Bank Sampah serta pegiat lingkungan,” ujarnya.
Di sisi lain, keberlanjutan pengelolaan sampah juga membutuhkan sistem pembiayaan dan kelembagaan yang mampu menopang kegiatan secara mandiri.
Karena itu, Pemkot Cilegon berupaya memperkuat tata kelola retribusi serta kelembagaan pengelolaan persampahan.
“Pemkot Cilegon memperkuat tata kelola retribusi dan kelembagaan pengelolaan sampah agar Dinas Lingkungan Hidup (DLH),” jelasnya.
Penguatan tersebut diharapkan dapat memberikan ruang bagi DLH Kota Cilegon untuk menjalankan pengelolaan sampah dengan sistem operasional yang lebih terukur dan berkelanjutan.
“Kota Cilegon memiliki skema operasional yang mandiri dan berkesinambungan setelah masa pendampingan program selesai,” tegasnya.
Selain mengandalkan pembiayaan pemerintah daerah, pengelolaan sampah juga diarahkan untuk memiliki nilai ekonomi.
Pemkot Cilegon membuka peluang keterlibatan dunia usaha dalam pemanfaatan produk hasil pengolahan sampah.
“Pemkot terus membuka ruang kerja sama dengan pihak swasta dan industri lokal untuk menyerap hasil olahan sampah,” katanya.
Kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya membantu mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dari material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.
“Sehingga terbentuk ekosistem ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah bagi daerah,” pungkasnya.***