CILEGON – Aktivitas balap burung merpati atau ngolong di kawasan Situ Rawa Arum, Kelurahan Tegal Wangi, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon, kini menjadi sumber penghasilan bagi sejumlah warga.
Para “pilot burung” yang bertugas melepas merpati saat latihan maupun lomba mengaku bisa mengantongi keuntungan hingga ratusan ribu rupiah per hari.
Salah satu pilot burung, Agis (24), warga Pulomerak, mengatakan hampir setiap hari ia menjalankan aktivitas tersebut di lahan rawa seluas delapan hektare itu.
“Alhamdulillah untuk setiap harinya ada aja, bayar mah 10 ribu setiap burung, sepuasnya,” ujarnya, Kamis (13/11/2025).
Dari pekerjaannya itu, Agis bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp150 ribu per hari.
Ia bertugas melepas burung-burung para penghobi merpati dengan cara bolak-balik dari lokasi kolongan ke titik pelepasan menggunakan sepeda motor yang telah dimodifikasi dengan kandang di bagian belakang.
“Sehari ya bisa puluhan kali bulak-balik buat lepas burung,” jelasnya.
Setiap hari, puluhan hingga ratusan burung merpati dilatih di kawasan tersebut. Suasana semakin ramai pada sore hari ketika para penghobi berkumpul untuk melatih burung mereka.
Saat ini, sekitar enam anak muda menekuni profesi sebagai pilot burung di kawasan itu.
Mayoritas adalah warga Kelurahan Tegal Wangi dan sekitarnya. Bagi mereka, aktivitas ini menjadi alternatif mata pencaharian di tengah terbatasnya lapangan kerja formal.
Kegiatan balap burung juga berdampak positif terhadap roda ekonomi warga sekitar.
Sejumlah penduduk membuka warung makan, menyediakan minuman, hingga menawarkan jasa parkir bagi para pecinta merpati.
“Dari kegiatan ini banyak yang terbantu, ada warung, ada yang bantu jaga kendaraan. Pokoknya ramai,” ujar salah seorang warga.
Rawa Arum selama ini dikelola secara swadaya oleh masyarakat. Tidak ada pungutan biaya, baik untuk pedagang maupun penghobi burung yang memanfaatkan lahan tersebut.
Namun, rencana Pemerintah Kota Cilegon untuk mengambil alih pengelolaan kawasan tersebut memunculkan kekhawatiran.
Warga khawatir jika nantinya akan ada biaya sewa atau retribusi yang memberatkan para pedagang dan pengguna lahan.
“Selama ini kita tidak bayar, parkir dan penggunaan lahan untuk warung tidak dikenakan sewa, semua aktivitas gratis di sini,” kata Agus, warga Cidangdang, Kelurahan Tegal Wangi.
Agus berharap, jika pemerintah benar-benar mengambil alih pengelolaan, kegiatan masyarakat tetap bisa berjalan seperti biasa tanpa menambah beban biaya. Ia menilai kehadiran pemerintah seharusnya mendorong perkembangan kawasan tersebut.
“Semoga pemerintah Kota Cilegon bisa buat lebih ramai dan kami bisa dagang, usaha di sini, jangan bayar kalau bisa mah,” ujarnya.
Kini, Rawa Arum berkembang sebagai pusat kegiatan ekonomi berbasis hobi yang tumbuh secara alami. Selain menjadi tempat hiburan bagi para penghobi merpati, kawasan ini juga membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar. (*/ARAS)