Saluran Terbuka Picu Insiden, Warga dan Pedagang di Cilegon Desak Penutupan Drainase

CILEGON – Pembangunan drainase saluran air yang belum ditutup di sejumlah ruas jalan di Kota Cilegon memicu keluhan serius dari para pedagang warung kelontongan di pinggir jalan.

Akses yang terputus membuat mereka terpaksa membangun jembatan darurat dari kayu demi mempertahankan usaha.

Pantauan di lokasi menunjukkan deretan warung memasang papan dan balok kayu sebagai penghubung sementara agar pembeli tetap dapat keluar masuk.

Kondisi ini dinilai berbahaya, terlebih karena saluran drainase dibiarkan terbuka tanpa penutup permanen.

Beberapa insiden bahkan telah terjadi. Warga setempat mengaku pernah ada mobil yang terperosok ke dalam saluran tersebut. Tak hanya itu, seorang anak kecil juga sempat terjatuh ke dalam drainase yang terbuka.

Salah satu pedagang pecel lele, Cipto, mengaku sudah lebih dari satu bulan tidak bisa berjualan secara normal akibat kondisi tersebut. Ia menyebut akses menuju warungnya tertutup sehingga pelanggan enggan singgah.

“Kami mohon kepada Pemerintah Kota Cilegon agar kasihan kepada orang usaha kecil, beri toleransi. Drainase ini kenapa tidak ditutup,” ujar Cipto saat ditemui di Jalan Raya Cilegon–Merak, Gerem, Kota Cilegon, Senin (6/4/2026).

Ia menambahkan, selama satu setengah bulan terakhir dirinya kehilangan penghasilan karena terhambatnya akses ke tempat usahanya.

“Selama satu bulan setengah ini saya tidak bisa mencari nafkah. Kami mohon pemerintah kasihan kepada masyarakat kecil,” tambahnya.

Di tempat terpisah, pelaksana proyek drainase menjelaskan bahwa penutupan saluran air sudah diatur dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB). Namun, penutup drainase hanya diperuntukkan bagi akses tertentu sesuai perencanaan.

“Di RAB memang ada penutupan drainase, tetapi hanya untuk akses jalan masyarakat seperti mushola atau rumah. Untuk warung-warung kecil tidak ada dalam anggaran,” ujarnya singkat. ***

Comments (0)
Add Comment