Tunggu Hasil Feasibility Studies, Krakatau Steel Siap Terima Proyek 3 Juta Ton Baja dari Danantara

 

CILEGON – Rencana Danantara menyuntikkan tambahan investasi ke PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) untuk meningkatkan kapasitas produksi hingga 3 juta ton mendapat sambutan positif dari manajemen perseroan.

Langkah ini dinilai menjadi momentum penting dalam mempercepat hilirisasi industri baja nasional.

Corporate Secretary (Corsec) PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Fedaus, mengatakan rencana tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat struktur industri baja terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Rencana 3 juta ton produk baja sebagai bagian dari memperkuat hilirisasi, itu adalah bagian dari upaya pemerintah memaksimalkan produksi baja lokal,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).

Menurutnya, penguatan hilirisasi menjadi strategi krusial untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku maupun produk baja setengah jadi yang selama ini masih membebani industri dalam negeri.

Program peningkatan kapasitas ini sekaligus menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mendukung restrukturisasi dan transformasi bisnis Krakatau Steel agar lebih efisien dan berdaya saing.

Fedaus menjelaskan, proyek pengembangan 3 juta ton tersebut terbagi dalam dua fokus utama, yakni pengolahan bijih besi dan pengolahan nikel ore untuk kebutuhan stainless steel slab.

“Nah, project ini ada dua bagian. Satu itu untuk pengolahan biji besi, dan satu lagi itu adalah untuk pengolahan nikel ore untuk stainless steel slab,” lanjutnya.

Saat ini, proyek tersebut masih berada pada tahap studi kelayakan atau feasibility studies untuk memastikan kesiapan dari sisi teknis, finansial, hingga potensi pasar sebelum masuk tahap realisasi.

“​Project ini sekarang posisinya sedang dilakukan feasibility studies yang diperkirakan selesai dalam 4 sampai 6 minggu,” jelas Fedaus.

Ia mengungkapkan, kajian telah dimulai sejak Januari dan ditargetkan rampung pada Maret 2026 sebagai dasar pengambilan keputusan manajemen.

“Sudah dilakukan dari Januari, mudah-mudahan Maret sudah selesai,”harapannya.

Studi kelayakan tersebut, lanjutnya, mencakup perhitungan biaya distribusi bahan baku dari daerah penghasil bijih besi seperti Papua dan Kalimantan menuju fasilitas produksi di Cilegon.

“Feasibility studies ini dibuat untuk melihat kelayakan apakah pabrik Cilegon mampu untuk melakukan produksi karena untuk biji besi adanya di Papua dan Kalimantan, ​Nah, ini kan harus dihitung cost-nya,”tuturnya.

Selain aspek biaya logistik, perusahaan juga menilai kualitas dan kadar Fe (Iron) dari bijih besi agar memenuhi spesifikasi produksi yang dibutuhkan industri baja nasional.

“Kita juga harus melihat kadarnya, kualitas biji besinya atau Fe (Iron)-nya bagus atau sesuai spek atau tidak. Nah, kemudian untuk nikel ore atau nikel, nickel ore itu sementara ini kan ada di Morowali, di Sulawesi,”katanya.

Aspek pasar juga menjadi perhatian serius, terutama terkait ketersediaan offtaker domestik untuk menyerap produk hasil pengolahan nikel yang selama ini lebih banyak diekspor.

“​Nah, tapi kita juga harus tahu offtaker-nya, ada tidak pembelinya di dalam negeri. Karena selama ini Morowali itu kan ekspor, Jadi pembelinya dari luar,”jelas Fadeus.

Fedaus menegaskan, seluruh keputusan strategis perusahaan, termasuk kemungkinan aksi korporasi lanjutan, akan ditentukan berdasarkan hasil akhir studi kelayakan tersebut.

“KS. Tapi apakah KS akan melakukan take over atau tidak, ini kan tergantung nanti hasil dari feasibility,”katanya.

Meski masih dalam tahap kajian, manajemen menilai peluang proyek ini cukup menjanjikan dalam mendorong kebangkitan industri baja nasional sekaligus memperkuat posisi Krakatau Steel sebagai produsen baja terintegrasi.

“Tapi kalau melihat peluang, memang bagus peluangnya untuk kemajuan dan upaya perbaikan di KS,”jelasnya.

Ia juga memastikan bahwa proyek 3 juta ton ini sepenuhnya merupakan kerja perusahaan bersama Danantara dan tidak berkaitan dengan kerja sama sebelumnya dengan pihak lain.

“​Project 3 juta ton ini tidak ada kaitannya dengan Krakatau Posco. Dulu memang sempat ada pembicaraan dengan Posco terkait ini, tapi ini 100% untuk KS dan Danantara. Sejauh ini gitu,” pungkasnya. (*/ARAS)

Comments (0)
Add Comment