CILEGON – Puluhan massa aksi yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kota Cilegon bersama solidaritas Garda Metal Jabodetabek melakukan aksi blokade akses pintu masuk utama Kawasan Pelabuhan Cigading (KBS) milik PT Krakatau Bandar Samudera (KBS), Kamis (29/1/2026).
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes buruh terhadap perusahaan yang dinilai belum memenuhi komitmen terkait status ketenagakerjaan sejumlah pekerja.
Para buruh menuntut agar 20 pekerja yang telah bekerja lebih dari 10 tahun segera diangkat menjadi karyawan tetap dengan status Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT).
Blokade dilakukan dengan menutup akses utama keluar masuk kawasan pelabuhan, sehingga sempat mengganggu aktivitas kendaraan yang hendak masuk ke area KBS.
Aksi tersebut juga membuat kemacetan di wilayah itu, akses sementara masuk pelabuhan diarahkan lewat jalur kawasan KS.
Koordinator aksi, Ismail selaku Pangkorda Garda Metal Cilegon, menyampaikan bahwa tuntutan tersebut bukan tanpa dasar, karena telah ada kesepakatan sebelumnya antara pihak buruh dan manajemen perusahaan.
Ia menjelaskan, pada Desember 2025 lalu telah dilakukan pertemuan yang menghasilkan kesepakatan terkait Perjanjian Kerja Bersama (PKB) baru yang mengatur status kerja tetap bagi para pekerja.
Namun hingga memasuki Januari 2026, kesepakatan tersebut belum juga direalisasikan oleh pihak perusahaan.
“Tetapi sampai Januari 2026 ini belum juga PKB itu diberlakukan, kita hanya menuntut status,” ujar Ismail.
Menurut Ismail, aksi blokade ini merupakan bentuk kekecewaan buruh atas lambannya respons manajemen terhadap tuntutan yang dinilai sangat mendasar bagi kepastian kerja.
Ia menegaskan bahwa buruh hanya menuntut hak normatif sesuai kesepakatan yang telah disetujui bersama sebelumnya.
Selain memblokade pintu masuk utama kawasan pelabuhan, massa aksi juga mengancam akan memperluas aksi jika tidak ada kejelasan dari pihak perusahaan.
Rencana perluasan aksi tersebut akan menyasar akses jalan utama yang menghubungkan Cilegon dan Anyer.
“Kalau tidak ada kejelasan kita blokir juga jalan raya Anyer, kami tidak takut,” imbuhnya.
Ismail menyebutkan, hingga aksi berlangsung, belum ada perwakilan dari jajaran top manajemen PT KBS yang menemui massa untuk memberikan penjelasan maupun solusi.
Ia menegaskan bahwa aksi akan terus berlanjut dan diperluas apabila pihak perusahaan tetap tidak merespons tuntutan buruh.
Hingga berita ini diturunkan, aksi blokade masih berlangsung dalam kondisi tertib dan kondusif dengan pengawalan aparat keamanan, sembari menunggu kehadiran perwakilan manajemen perusahaan. (*/ARAS)