SERANG-Alokasi anggaran bantuan sosial (Bansos) dan perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH) dalam APBD Banten tahun 2026 turun.
Kendati mengalami penurunan, Wakil Gubernur Banten A Dimyati Natakusumah memastikan penurunan alokasi tak berpengaruh pada jumlah jangkauan penerima manfaat bansos.
Hal ini bisa dilakukan, kata Dimyati, dengan cara mengoptimalkan berbagai sumber pendanaan di luar APBD Banten yang nantinya diklaim bakal menjangkau lebih luas terhadap penerima manfaat.
Dimyati bahkan menegaskan, jika ukuran keberhasilan program sosial tidak semata-mata dilihat dari besaran anggaran dalam APBD, melainkan dari seberapa besar manfaat yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
“Kalau dilihat dari APBD mungkin kelihatannya turun, tapi nanti hasilnya (seperti) pendistribusian ke masyarakat justru lebih banyak, itu yang kami dorong,” katanya, Kamis, (1/1/2026).
Adapun untuk bansos non APBD, Dimyati mengungkapkan bakal mengoptimalkan zakat melalui Baznas hingga dukungan program corporate social responsibility (CSR) dari sejumlah pihak swasta.
“Bisa dari bantuan lain, dari pos-pos yang berbeda, saya yakin nanti itu terasa oleh masyarakat,” kata dia.
Untuk bantuan RTLH, ia menegaskan era kepemimpinan Andra-Dimyati persoalan tersebut di Banten tuntas secara bertahap.
“Saya ingin Rumah Tidak Layak Huni tuntas selama kepemimpinan Andra-Dimyati,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Perumahan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Banten, Suhadi, menyebut alokasi anggaran program RTLH di tahun 2026 masih bersifat dinamis.
Apabila pada 2025 Pemprov Banten menargetkan perbaikan 360 unit rumah, maka tahun depan, ia memproyeksikan sekitar 300 unit dapat diperbaiki.
“Rencananya kurang lebih 300 unit, memang ada potensi menurun, tapi masih dinamis,” kata Suhadi.
Selanjutnya mengenai besaran anggaran yang turun, Kepala Dinas Sosial Provinsi Banten, Lukman mengungkapkan, tahun 2025 Pemprov mengalokasikan bansos Rp 18,8 miliar, turun 56 persen apabila dibandingkan dengan tahun 2024 yang sebesar Rp32,5 miliar.
“Memang turun lagi tahun 2026, detailnya masih dalam penyesuaian,” ujarnya.***