SERANG –Jumlah penerima bantuan sosial (bansos) di Provinsi Banten pada 2027 diproyeksikan kembali menurun.
Penyebabnya adalah penyesuaian anggaran akibat keterbatasan kemampuan keuangan daerah.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Banten Lukman mengatakan, alokasi bansos 2027 masih dalam tahap pembahasan, namun proyeksi sementara sekitar Rp13 miliar.
“Kalau diproyeksikan untuk tahun depan itu Rp13 miliaran, karena kan tahun ini Rp16 miliar, proyeksinya begitu, tapi kita belum bisa memastikan,” kata Lukman, Senin (21/9/2026).
Dengan proyeksi anggaran tersebut, jumlah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) juga diperkirakan susut. Dari sekitar 16 ribu KPM pada 2026 menjadi sekitar 13 ribu KPM pada 2027.
“Iya ada pengurangan karena kemampuan keuangan daerah, jadi kita menyesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah juga,” ujarnya.
Lukman menegaskan angka tersebut belum final karena pembahasan APBD 2027 masih berlangsung.
Penurunan penerima bansos menjadi tren dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024 penerima bansos tercatat lebih dari 65 ribu KPM dengan anggaran Rp32,5 miliar.
Selanjutnya, pada 2025 turun menjadi 37.741 KPM dengan anggaran Rp18,8 miliar.
Pada 2026 sekitar 16 ribu KPM dengan anggaran Rp16 miliar, dan pada 2027 diproyeksikan 13 ribu KPM dengan anggaran Rp13 miliar.
Menurut Lukman, penurunan tidak hanya soal anggaran, tetapi juga karena ada warga yang sudah keluar dari kelompok desil 1 hingga 5 berdasarkan pendataan.
“Otomatis berkurang penerimanya juga, karena itu tadi keterbatasan atau kemampuan anggaran, ditambah ada juga yang keluar dari desil satu sampai lima,” katanya.
Selain itu, terjadi pergeseran sebaran warga miskin. Berdasarkan pendataan terbaru, jumlah warga miskin terbanyak kini berada di wilayah Tangerang Raya, bukan lagi di Kabupaten Serang, Pandeglang, dan Lebak seperti data sebelumnya.
“Terbanyak itu di Tangerang Raya, kalau dulu kan di Kabupaten Serang, Pandeglang, dan Lebak. Setelah didata ulang, Tangerang itu paling banyak,” pungkasnya.***