SERANG – Situasi kebahasaan di Indonesia saat ini begitu kompleks. Di satu sisi, kita harus mengutamakan Bahasa Indonesia, di sisi lain bahasa daerah pun harus dilestarikan. Hingga saat ini Bahasa daerah kehilangan banyak penutur.
Demikian disampaikan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Prof. E. Aminudin Aziz dalam kegiatan seminar internasional ketiga tentang bahasa, sastra, pendidikan, seni, dan budaya di Ballrom Horison Ultima Ratu Serang pada Sabtu, (4/10/2025).
Aminudin Aziz mengatakan, selain kehilangan banyak penutur, beberapa bahasa daerah nyaris kehilangan penutur.
“Bahasa Sunda misalnya, selama 10 tahun kehilangan hingga 2 juta penutur,” ungkapnya.
Aminudin Aziz menyatakan bahwa banyak bahasa daerah yang terancam punah karena berbagai sebab.
Pertama, Karena sikap penuturnya merasa rendah diri atau kurang bergengsi ketika berbicara dalam bahasa daerah.
“Kedua, kawin campuran atau antar etnis juga sangat berpengaruh, persaingan bahasa orang tua di lingkungan rumah yang mengakibatkan peralihan ke bahasa ketiga,” ungkapnya.
Ketiga, Aminudin Aziz menjelaskan bahwa migrasi juga berpengaruh terhadap kepunahan Bahasa daerah.
“Migrasi karena alasan pendidikan atau pekerjaan yang memerlukan penggunaan bahasa ‘baru’ di tempat baru atau akibat bencana,” ungkapnya.
Amnudin juga mengatakan bahwa globalisasi pun memiliki pengaruh signifikan terhadap jumlah penutur di Tanah Air.
“Globalisasi yang menimbulkan gejala monolingualisme, yakni kecenderungan untuk menggunakan bahasa yang lebih banyak dipakai dalam pergaulan global,” ujar Guru Besar Linguistik UPI ini.
Salah satu peserta seminar, Linda Cahya Wibawa menyatakan bahwa punahnya bahasa daerah berarti hilangnya bagian penting dari identitas suatu suku atau komunitas.
“Bahasa mengandung nilai-nilai, adat, cerita rakyat, dan kearifan lokal yang tidak selalu bisa diterjemahkan ke dalam bahasa lain,” ujar mahasiswa Pascasarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ini.
Selain Kepala Perpusnas RI E. Aminudin Aziz, keynote speaker dalam kegiatan seminar internasioanl ini adalah Guru Besar Universitas Malaya Awang Azman bin Awang Pawi, Balazs Huszka dari Brunei Darussalam University, dosen seni ITB / Belanda Aminudin T. H. Siregar, dan Ketua HISKI Novi Anoegrajekti.***