HUT ke-18 Gerindra, Ketum Hima MA: Akar Perjuangan Kader di Banten Ditekankan Lewat Kerja Nyata

 

SERANG – Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang diperingati pada 6 Februari 2026, refleksi terhadap arah perjuangan dan konsistensi kerja politik kader di daerah kembali menguat, khususnya di Provinsi Banten.

Ketua Umum DPP Himpunan Mahasiswa Mathla’ul Anwar, Ahmad Syafaat, menilai usia 18 tahun merupakan fase kedewasaan bagi partai politik untuk melakukan konsolidasi dan evaluasi mendalam terhadap komitmen awal perjuangan.

“Bagi partai politik, usia ini bukan sekadar angka, melainkan momentum untuk memastikan bahwa orientasi perjuangan masih berpijak pada rakyat, terutama melalui kerja kader di tingkat akar rumput,” ujar Ahmad Syafaat kepada wartawan, Sabtu (7/2/2026).

Menurut Ahmad, kualitas demokrasi di daerah sangat ditentukan oleh kualitas kader partai politik.

Kader bukan hanya pelaksana keputusan organisasi, tetapi menjadi wajah nyata partai di hadapan masyarakat.

Dalam kajian akademik yang dilakukannya terhadap DPD Partai Gerindra Provinsi Banten, ia menemukan bahwa peran kader menjadi faktor sentral dalam menjaga relevansi partai di daerah.

“Di Banten, banyak kader Gerindra tumbuh dari masyarakat itu sendiri. Mereka memahami langsung persoalan warga, mulai dari keterbatasan ekonomi, akses pelayanan publik, hingga tantangan pembangunan daerah,” jelasnya.

Kondisi tersebut, lanjut dia, membentuk kader yang membumi dan memiliki kedekatan sosial yang kuat dengan masyarakat.

Ahmad Syafaat menyoroti program bedah rumah sebagai salah satu bentuk politik kehadiran yang paling nyata dirasakan masyarakat.

Program ini dinilai bukan sekadar bantuan sosial, melainkan simbol kehadiran negara dan kepedulian pemerintah daerah.

“Di sejumlah daerah di Banten, keterlibatan Ketua DPC dan kader Partai Gerindra dalam program bedah rumah menunjukkan bahwa politik tidak selalu hadir lewat pidato, tetapi melalui tindakan nyata,” katanya.

Ia menilai, program bedah rumah menjadi medium komunikasi politik yang paling jujur karena berlangsung tanpa jarak dan tanpa simbol berlebihan.

Secara teoritis, praktik tersebut sejalan dengan konsep representasi substantif sebagaimana dikemukakan ilmuwan politik Hanna Pitkin, di mana wakil rakyat dinilai dari tindakan nyata yang membawa manfaat langsung bagi masyarakat.

Dalam konteks kepemimpinan daerah, Ahmad menekankan bahwa kepala daerah dari Partai Gerindra, baik gubernur, bupati, maupun wali kota, diuji bukan hanya dari kemampuan administratif, tetapi dari keberpihakannya pada kebutuhan dasar masyarakat.

“Ketika kader partai diberi mandat kekuasaan dan mampu menjaga kedekatan dengan rakyat, kebijakan yang lahir akan lebih responsif dan berdampak,” ujarnya.

Ia menyebut relasi antara kader partai, kepala daerah, dan masyarakat di Banten menjadi penentu utama keberhasilan pembangunan daerah.

Momentum HUT ke-18 Partai Gerindra dengan tema “Kompak, Bergerak, dan Berdampak” dinilai sebagai pengingat penting agar partai tetap setia pada akar perjuangannya.

“Menjaga akar berarti setia pada keberpihakan, keadilan, dan keberanian. Menatap masa depan berarti membuka diri pada perubahan tanpa kehilangan kompas ideologis,” kata Ahmad.

Ia juga menegaskan bahwa tantangan ke depan semakin kompleks, mulai dari meningkatnya kritisisme masyarakat, dinamika ruang digital, hingga menguatnya politik identitas.

“Jika Partai Gerindra mampu terus melahirkan kader-kader yang berpikir, bekerja, dan berjuang dari daerah, maka partai ini tidak hanya bertahan secara elektoral, tetapi juga memberi makna bagi demokrasi Indonesia,” pungkasnya.

Di akhir pernyataannya, Ahmad Syafaat menyampaikan ucapan selamat atas Hari Kelahiran Partai Gerindra ke-18.

“Semoga usia yang bertambah tidak menjauhkan dari rakyat, tetapi justru semakin mendekatkan, dari pusat hingga pelosok, dari elite hingga ke akar rumput,” tutupnya.***

Comments (0)
Add Comment