JAKARTA – Anggota Komisi XIII DPR RI Edison Sitorus angkat bicara terkait polemik hunian mewah di Lapas Cibinong yang viral di media sosial dan berujung pada penonaktifan Kepala Lapas (Kalapas).
Edison meminta agar Kalapas Cibinong tidak dijadikan kambing hitam dalam kasus tersebut.
Menurutnya, publik sudah melihat sendiri di media sosial bahwa praktik hunian-hunian khusus di dalam lapas memang benar-benar terjadi.
“Ya enggak usah menutup mata bahwa masyarakat sudah lihat di media sosial bahwa kejadian itu memang terjadi, bahwa ada hunian-hunian yang memang ada,” ujar Edison dalam rapat RDP dengan Dirjen Pemasyarakatan Kemenimipas dan Kepala Lembaga Pemasyarakatan, Jakarta, Senin (28/9/2026).
Ia menilai Kalapas juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya dan dikorbankan begitu saja. Sebab, Kalapas hanyalah pelaksana instruksi dari pimpinan di atasnya.
“Jadi Kalapas juga enggak bisa disalahkan dan dikorbankan juga. Kalapas kan instruksi dari atas semuanya. Bisa apa Kalapas dengan pimpinan-pimpinannya di atas?” tegasnya.
Edison menyayangkan langkah penonaktifan Kalapas secara tiba-tiba. Menurutnya, seorang Kalapas tidak memiliki kuasa untuk menolak perintah atasan.
“Jangan pikiran kita mengatakan, ya jangan korbankan dia. Tapi perbaikin sistem yang ada. Ini tiba-tiba dinonaktifkan. Mereka bisa apa dengan pimpinan mereka? Suruh diam-diam, suruh jalan-jalan, itu Kalapas,” ucapnya.
Ia pun menyayangkan ketika ada peristiwa besar berskala nasional seperti ini, yang menjadi korban hanya Kalapas. Padahal, menurutnya, akar masalah ada pada sistem yang dibangun.
“Jadi kita tahu semua sangat disayangkan ketika ada peristiwa besar seperti ini, nasional peristiwanya hanya korbannya lima orang. Kasihan Kalapas ini. Dia enggak salah apa-apa. Sistem yang Bapak bangun yang salah,” kata Edison.
Di akhir pernyataannya, Edison meminta pimpinan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan untuk melakukan perubahan menyeluruh di jajaran Kalapas pasca kejadian ini.
“Ini, Pak Pimpinan, tolong setelah kejadian ini ada perubahan lah di Kalapas kita ini,” pungkasnya. (*/Ajo)