MAKKAH — Kementerian Haji dan Umrah RI (Kemenhaj) bersama otoritas Arab Saudi terus mematangkan kesiapan layanan, memasuki dua pekan jelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Sejumlah aspek mulai dari konsumsi, transportasi, akomodasi hingga pengamanan mobilitas jemaah menjadi fokus utama agar pelaksanaan ibadah berjalan lancar.
Staf Teknis Kementerian Urusan Haji Arab Saudi, Muhammad Ilham Effendy, mengatakan fase Armuzna merupakan tahapan paling krusial dalam operasional haji karena jutaan jemaah bergerak dalam waktu hampir bersamaan.
“Yang paling penting bagaimana seluruh jemaah tetap terpenuhi kebutuhannya, terutama konsumsi, karena dinamika di Arafah, Muzdalifah, dan Mina sangat berbeda dibanding fase biasa,” kata Ilham kepada Media Center Haji, Minggu (10/5/2026).
Ilham menjelaskan, koordinasi intensif dilakukan bersama tim konsumsi dan penyedia layanan guna memastikan distribusi makanan tetap aman dan tepat waktu sejak keberangkatan.
Diketahui, jemaah akan menuju Arafah pada 8 Zulhijah, pelaksanaan wukuf 9 Zulhijah, hingga mabit dan lontar jumrah pada 12-13 Zulhijah.
“Kami ingin memastikan selama fase Armuzna seluruh konsumsi jemaah tetap aman dan terdistribusi dengan baik,” ujarnya.
Selain konsumsi, pemerintah juga memperketat pengawasan terhadap kesiapan akomodasi sesuai kontrak layanan yang telah disepakati dengan pihak penyedia di Arab Saudi.
Pengawasan dilakukan mulai dari kapasitas kamar hingga fasilitas penunjang bagi jemaah.
Di sektor transportasi, Ilham menyebut tantangan pelayanan di Makkah lebih kompleks dibanding Madinah.
Sebagian besar jemaah di Makkah harus menggunakan Bus Shalawat menuju Masjidil Haram dengan waktu tempuh sekitar 15 hingga 30 menit.
Karena itu, petugas disiagakan di sejumlah terminal dan titik pemberhentian bus untuk membantu mengarahkan jemaah agar tidak salah rute saat menuju maupun kembali dari Masjidil Haram.
“Petugas akan mengawal dan mengarahkan jemaah agar tidak salah naik bus. Di sekitar Masjidil Haram ada beberapa terminal dan titik pemberhentian seperti Ajyad, Jabal Ka’bah hingga Syib Amir, sehingga jemaah harus benar-benar mengenali simbol dan rute busnya,” kata Ilham.
Menurut dia, pemerintah juga telah menyiapkan simbol dan penanda khusus di setiap sektor pemondokan untuk memudahkan jemaah Indonesia mengenali jalur transportasi menuju hotel masing-masing.
Ilham mengakui penyelenggaraan ibadah haji setiap tahun selalu menghadapi tantangan baru, terutama terkait perubahan kebijakan dari otoritas Saudi yang harus direspons cepat oleh petugas lapangan.
“Tantangan haji itu selalu dinamis. Hampir setiap tahun ada perubahan kebijakan dan kita harus cepat mencari solusi agar layanan kepada jemaah tetap berjalan baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, perhatian terhadap layanan ramah lansia dan kesiapan kesehatan juga menjadi prioritas tahun ini karena mayoritas jemaah Indonesia berusia lanjut akibat panjangnya masa tunggu keberangkatan.
“Konsekuensinya, usia jemaah semakin lanjut dan kondisi kesehatannya juga semakin rentan. Itu sebabnya pelayanan ramah lansia dan penguatan kesiapan kesehatan menjadi perhatian penting tahun ini,” kata Ilham.
Pemerintah berharap seluruh persiapan layanan Armuzna dapat berjalan optimal sehingga jemaah Indonesia bisa menjalankan wukuf dan rangkaian puncak ibadah haji dengan aman, nyaman, serta khusyuk. (*/Red/MCH-2026)