Akibat Serangan Babi dan Monyet, Ratusan Petani di Lebak Tak Dapat Hasil Panen Karena Ladang Rusak

LEBAK – Ratusan petani di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, terpaksa menghentikan aktivitas pertanian akibat serangan hama kawanan babi hutan dan monyet liar yang menyebabkan kerugian ekonomi cukup besar.

Kepala Desa Cimangeunteung, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Uci Sanusi, mengatakan sekitar 500 petani di wilayahnya kini menganggur karena lahan pertanian tidak lagi digarap setelah kerap diserang hama satwa liar.

“Kurang lebih 500 petani warga kami menganggur sejak maraknya serangan babi hutan dan monyet liar,” kata Uci di Lebak, Jumat (26/12/2025).

Ia menjelaskan, petani tidak lagi menanam di ladang karena hasil pertanian selalu rusak sebelum masa panen.

Sejumlah komoditas seperti singkong, jagung, ubi jalar, pisang, pepaya, dan tanaman palawija lainnya dilaporkan gagal panen.

Padahal, sebelumnya petani di desa tersebut mampu memperoleh pendapatan rata-rata sekitar Rp500 ribu per bulan dari sektor pertanian. Namun kini, sumber penghasilan itu hilang akibat serangan hama.

“Jika rata-rata pendapatan petani Rp500 ribu per bulan dan jumlah petani sekitar 500 orang, maka potensi kehilangan ekonomi bisa mencapai Rp3 miliar per tahun,” ujarnya.

Salah seorang petani, Patma, yang menggarap lahan di belakang Gedung BPMP Rangkasbitung, mengaku tanaman palawija di lahan seluas 5.000 meter persegi miliknya rusak akibat serangan babi hutan.

Menurut dia, serangan biasanya terjadi pada dini hari sekitar pukul 01.00 WIB. Kawanan babi hutan tersebut diduga berasal dari kawasan hutan dan perkebunan kelapa sawit di sekitar lokasi.

“Sejak ada pembangunan Waduk Karian, serangan babi hutan mulai sering terjadi. Sebelumnya tidak pernah separah ini,” kata Patma.

Ia menduga perubahan habitat akibat pembangunan waduk mendorong babi hutan masuk ke kebun warga untuk mencari sumber makanan.

Sementara itu, H Katma, petani asal Desa Sindangwangi, Kecamatan Muncang, Kabupaten Lebak, juga mengaku tidak lagi mengolah lahan pertaniannya karena tanaman pisang, jagung, ubi, dan singkong sering dirusak kawanan monyet.

Ia menilai kerusakan habitat satwa di kawasan pegunungan akibat aktivitas eksplorasi pertambangan batu turut memicu meningkatnya gangguan terhadap lahan pertanian warga.

“Sekarang populasi babi hutan dan monyet semakin banyak dan merusak pertanian masyarakat karena kawasan gunung sudah rusak,” katanya.

Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Deni Iskandar, membenarkan bahwa serangan hama satwa liar terjadi akibat alih fungsi lahan yang mengganggu habitat alami hewan tersebut.

Menurut dia, satwa liar seperti babi hutan dan monyet terpaksa masuk ke kebun warga untuk mencari makan, terutama di wilayah yang berdekatan dengan kawasan hutan atau perkebunan kelapa sawit.

“Kami berharap petani dapat melakukan pengamanan tanaman, terutama pada malam hingga dini hari, guna meminimalkan kerusakan,” kata Deni.***

Kabupaten LebakPetani
Comments (0)
Add Comment