Alarm Kesehatan di Lebak, Kasus Campak Naik, Pemeriksaan Laboratorium Terhambat

 

LEBAK– Lonjakan kasus dugaan campak di Kabupaten Lebak sepanjang tahun 2025 memunculkan kekhawatiran baru di sektor kesehatan.

Di saat kebutuhan penanganan semakin mendesak, keterbatasan fasilitas pemeriksaan justru menjadi tantangan yang belum teratasi.

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Lebak, jumlah kasus terduga campak mencapai 317 kasus selama 2025.

Angka ini mengalami peningkatan sekitar 23,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 256 kasus. Wilayah Rangkasbitung menjadi daerah dengan jumlah temuan paling tinggi.

Namun demikian, seluruh kasus tersebut hingga kini masih berstatus dugaan. Hal ini disebabkan belum tersedianya pemeriksaan laboratorium yang memadai untuk memastikan diagnosis secara pasti.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Lebak, Nining Tilawah, menjelaskan bahwa pihaknya belum dapat melakukan uji spesimen serum. Kondisi ini dipicu oleh kekosongan reagen di laboratorium rujukan.

“Kasus yang ada saat ini masih dalam kategori terduga. Pemeriksaan laboratorium belum bisa dilakukan karena keterbatasan reagen di BBLKM Jakarta,” ungkapnya dia kepada Fakta Banten, Jumat (20/3/2026).

Di sisi lain, peningkatan kasus ini juga tidak lepas dari persoalan klasik, yakni menurunnya cakupan imunisasi.

Dampak pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu disebut masih terasa hingga kini, terutama pada penurunan angka imunisasi dasar anak.

Akibatnya, kekebalan kelompok (herd immunity) di masyarakat melemah. Kondisi tersebut diperparah dengan tingginya mobilitas warga, sehingga potensi penyebaran penyakit menjadi lebih cepat.

“Masih ditemukan penolakan imunisasi di sebagian masyarakat. Ditambah mobilitas yang tinggi, ini memperbesar risiko penularan,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Lebak terus memperkuat pengawasan melalui kegiatan surveilans dan penyelidikan epidemiologi di lapangan.

Program imunisasi juga kembali digencarkan guna meningkatkan perlindungan masyarakat, khususnya anak-anak.

Selain itu, edukasi kepada masyarakat menjadi fokus utama, terutama dalam mengenali gejala awal campak.

Orang tua diimbau untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami tanda-tanda seperti demam, batuk, pilek, dan muncul ruam kemerahan di kulit.

Dinkes berharap, dengan peningkatan kesadaran masyarakat serta dukungan kesehatan yang optimal, potensi penyebaran campak dapat ditekan sedini mungkin. (*/Sahrul).

Comments (0)
Add Comment