BPBD Lebak Siagakan 28 Relawan Hadapi Cuaca Ekstrem di Wilayah Pesisir

 

LEBAK– Menghadapi potensi cuaca ekstrem dan gelombang tinggi yang mulai terjadi di kawasan selatan Banten, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak menyiagakan 28 relawan yang tersebar di seluruh kecamatan.

Langkah ini dilakukan untuk memperkuat deteksi dini dan mempercepat penanganan bencana di lapangan.

Kepala Pelaksana BPBD Lebak, Febby Rizki Pratama, menjelaskan bahwa para relawan tersebut menjadi ujung tombak dalam memantau kondisi alam di wilayah rawan, terutama di kawasan pesisir yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia.

“Kami sudah aktifkan 28 relawan yang ada di setiap kecamatan. Mereka akan terus berkoordinasi dengan perangkat desa, camat, dan aparat keamanan untuk melaporkan kondisi cuaca dan potensi bahaya” ujar Febby, Kamis (6/11/2025).

Menurut Febby, imbauan kesiapsiagaan ini juga merupakan tindak lanjut dari peringatan BMKG tentang peningkatan aktivitas cuaca pada puncak musim hujan yang diprediksi berlangsung dari November 2025 hingga Februari 2026.

Para relawan BPBD tidak hanya bertugas mengamati kondisi alam, tetapi juga menyiapkan langkah cepat ketika terjadi banjir, tanah longsor, atau gelombang tinggi.

Mereka telah dibekali dengan pelatihan dasar kebencanaan dan peralatan darurat.

“Peran relawan sangat penting karena mereka berada langsung di tengah masyarakat. Ketika ada laporan potensi bahaya, mereka yang pertama memberikan informasi dan membantu evakuasi,” kata Febby.

Wilayah selatan Lebak seperti Bayah, Cihara, Wanasalam, dan Panggarangan menjadi titik pemantauan utama karena sering terdampak badai dan gelombang laut tinggi.

Selain itu, beberapa daerah pegunungan juga masuk kategori siaga karena rawan longsor ketika hujan deras mengguyur.

Sementara itu, BMKG memprediksi curah hujan dengan intensitas tinggi hingga sangat tinggi akan meluas di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Banten.

Pergerakan Madden Julian Oscillation (MJO) dan anomali suhu muka laut positif menjadi penyebab meningkatnya potensi pembentukan awan hujan tebal serta gelombang laut tinggi yang bisa mencapai 2-3 meter di perairan selatan.

Febby menegaskan, masyarakat di kawasan pesisir diminta menunda aktivitas melaut dan tidak memaksakan diri berlayar ketika kondisi cuaca memburuk.

“Kami juga berkoordinasi dengan kelompok nelayan agar memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi BMKG dan BPBD,” tambahnya.

Untuk memastikan kesiapsiagaan berjalan maksimal, BPBD Lebak membuka posko pemantauan 24 jam.

Informasi mengenai kondisi cuaca akan diperbarui secara berkala dan disebarkan melalui kanal komunikasi relawan di tingkat desa.

Selain itu, BPBD juga menyiapkan sistem komunikasi cepat bersama TNI, Polri, dan aparat pemerintahan lokal agar bantuan dapat segera dikerahkan jika terjadi bencana.

“Kami tidak ingin masyarakat panik, tapi harus siap. Musim hujan tahun ini perlu dihadapi dengan disiplin dan kewaspadaan tinggi,” ujar Febby.

BPBD Lebak menegaskan bahwa seluruh relawan akan terus berjaga hingga kondisi cuaca kembali normal.

Febby berharap langkah antisipasi dini ini bisa meminimalkan risiko dan menjaga keselamatan masyarakat.

“Kami harap semua elemen bergerak bersama. Relawan kami siap di lapangan, tapi masyarakat juga harus waspada dan cepat melapor bila ada tanda-tanda bahaya,” pungkasnya. (*/Sahrul).

Comments (0)
Add Comment