LEBAK – Harapan besar untuk menunaikan ibadah haji tahun ini pupus di detik terakhir bagi seorang calon jemaah asal Kecamatan Bojongmanik, Kabupaten Lebak.
Meski telah dijadwalkan berangkat dua kali dalam kloter berbeda, sang jemaah urung menapakkan kaki ke Tanah Suci karena alasan yang membuat haru banyak pihak.
Seorang jemaah haji asal Kabupaten Lebak yang tercatat dalam kloter JKG 49 semula dijadwalkan berangkat bersama rombongannya.
Namun karena kendala tertentu, ia tidak turut serta dalam jadwal keberangkatan awal tersebut.
Melihat peluang kedua terbuka, petugas haji pun memberi opsi agar jemaah tersebut bergabung dengan kloter JKG 52 yang juga berasal dari Lebak.
Respons awal cukup menggembirakan. Ia bahkan sempat menyatakan kesediaannya untuk berangkat, disaksikan oleh keluarganya dalam sebuah video.
Pemeriksaan kesehatan pun menunjukkan bahwa tidak ada gangguan fisik maupun indikasi demensia yang menghalangi keberangkatan.
Namun, saat tiba di area keberangkatan, suasana berubah drastis. Ketika rombongan lain memasuki pesawat, ia memilih menjauh dan bergabung dengan rombongan yang belum naik.
Kasi Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag Lebak, Halimatussadiah membenarkan kejadian tersebut.
Ia mengungkapkan, dalam kejadian itu pihaknya telah melakukan berbagai upaya persuasif dilakukan dari petugas Kantor Kementerian Agama, Kelompok Bimbingan Haji, hingga petugas bandara dan maskapai ia tetap menolak untuk melanjutkan perjalanan.
“Beliau menyampaikan merasa banyak dosa, merasa tidak pantas berangkat,” katanya kepada Fakta Banten, Jumat (30/5/2025).
Akhirnya, pihak penyelenggara tidak bisa memaksakan kehendak. Sang jemaah dinyatakan batal berangkat untuk kedua kalinya.
Dilanjutkan Kasi, bahwa secara administratif dan kesehatan, jemaah tersebut sudah memenuhi syarat.
“Mungkin memang belum waktunya. Meskipun secara nasab dan nisab sudah lengkap, tapi mungkin nasib belum berpihak tahun ini,” katanya.
“Semoga tahun depan, jemaah diberikan kesehatan, kemantapan hati, dan kesempatan untuk menjadi tamu Allah yang mulia,” pungkasnya.
Saat ditanya identitas lengkap jemaah, sampai berita ini ditulis Kasi belum memberikannya kepada awak media.
“Bentar yah nanti saya kirim ya,” singkatnya.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa ibadah haji tidak hanya soal kesiapan fisik dan finansial, tetapi juga mental dan spiritual. (*/Sahrul).