LEBAK– Di sebuah sudut sunyi Kampung Pasir Ipis, Desa Kaduagung Barat, Kecamatan Cibadak, berdiri sebuah rumah yang seolah menolak waktu.
Dindingnya terbuat dari bilik bambu yang mulai lapuk, tiangnya miring, dan atapnya berlubang di banyak sisi.
Ketika angin berembus, bunyi derak kayu menjadi suara yang menakutkan seolah memberi tanda bahwa rumah itu tak lagi kuat berdiri.
Di dalamnya, Juned (70) dan istrinya, Saniti (65), menatap hari-hari dengan rasa was-was. Setiap kali hujan turun, mereka tak lagi mencari selimut, tapi jalan keluar untuk mengungsi.
“Kalau angin kencang, kami lari ke rumah tetangga. Takut roboh, Pak,” tutur Saniti lirih, Minggu (5/10/2025).
Tangannya gemetar saat bercerita. Sudah dua dekade mereka tinggal di rumah itu, dua puluh tahun menunggu keajaiban yang tak kunjung datang.
“Sedih, rasanya seperti dilupakan. Tapi mau bagaimana lagi, kami tak punya siapa-siapa,” ucapnya sambil menyeka air mata.
Juned, yang dulu bekerja sebagai buruh serabutan, kini tak lagi mampu beraktivitas karena sakit dan usia.
Sementara Saniti hanya sesekali menjadi buruh tani. Hasilnya pun tak seberapa.
“Saya paling nandur atau ngoyos di sawah orang. Upahnya kecil, tapi cukup buat makan seadanya,” katanya.
Kehidupan pasangan lansia ini berjalan dalam keterbatasan. Untuk memperbaiki rumah, jangankan bahan bangunan, membeli paku pun mereka tak sanggup.
Beberapa kali Saniti mencoba mengajukan bantuan ke pemerintah desa maupun kabupaten, namun hasilnya selalu sama: difoto, dijanjikan, tapi tak ada kabar lanjut.
“Pernah dimintai uang buat berkas, katanya biar cepat diproses. Kadang Rp30 ribu, kadang Rp50 ribu. Tapi ya sampai sekarang enggak ada bantuan juga,” ujarnya getir.
Satu-satunya bantuan yang rutin mereka terima hanyalah BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) sebesar Rp400 ribu setiap tiga bulan jumlah yang bahkan tak cukup untuk menutupi kebutuhan harian.
Meski hidup serba pas-pasan, Saniti dan Juned tetap bersyukur. Mereka hanya berharap bisa menutup usia dengan tenang, di rumah yang tak lagi mengancam keselamatan.
“Saya cuma ingin hidup tanpa takut rumah ini roboh. Enggak minta apa-apa lagi,” bisiknya pelan sambil menatap lantai bambu yang mulai berlubang.
Cerita mereka menyentuh hati warga sekitar. Erawati (27), tetangga yang tinggal tak jauh dari rumah itu, sering menyaksikan keduanya mengungsi setiap kali hujan deras mengguyur.
“Kalau lihat mereka, rasanya sedih. Rumahnya hampir roboh. Kami bantu seadanya, tapi kami juga susah,” ujarnya.
Erawati berharap ada perhatian dari pemerintah atau para dermawan yang tergerak membantu.
“Kalau dibiarkan, bisa bahaya. Kasihan, mereka sudah tua,” katanya.
Kisah Juned dan Saniti adalah cermin kecil dari wajah kemiskinan yang kerap luput dari perhatian.
Di tengah gegap gempita pembangunan, masih ada warga yang setiap malam tidur dengan rasa takut bukan karena mimpi buruk, tapi karena atap rumahnya bisa runtuh kapan saja.
Mereka tak meminta banyak. Hanya ingin sebuah rumah sederhana yang bisa menampung doa dan usia senja dengan tenang.
Dua puluh tahun menunggu, dua puluh tahun berharap semoga kali ini, ada tangan yang benar-benar datang untuk menolong. (*/Sahrul).