LEBAK – Di tengah semangat memperingati kelahiran Pancasila, suara kritis dari kalangan mahasiswa kembali menggema.
DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Lebak mengambil sikap tegas menolak rencana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada mantan Presiden Soeharto, dengan alasan moral sejarah dan nilai kemanusiaan.
Momentum reflektif Hari Lahir Pancasila membawa satu pernyataan sikap dari DPC GMNI Lebak, yang menilai bahwa rencana penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dapat membuka luka lama dalam sejarah bangsa.
Dalam pernyataannya, Ketua DPC GMNI Lebak, Ruswana, menegaskan bahwa gelar pahlawan bukan sekadar simbol kehormatan, tetapi bentuk pengakuan negara atas dedikasi dan integritas seorang tokoh terhadap nilai-nilai kemerdekaan, keadilan sosial, dan kemanusiaan.
“Kami menghormati hak setiap warga negara dalam menilai sejarah, namun GMNI Lebak tidak dapat tinggal diam ketika nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan dipertaruhkan. Ada luka sejarah yang belum sembuh, dan pengakuan terhadap Soeharto sebagai pahlawan nasional dapat mencederai nurani publik,” jelas Ruswana kepada Fakta Banten, Kamis (5/6/2025).
Menurut GMNI Lebak, masa kepemimpinan Soeharto dalam era Orde Baru tidak bisa dilepaskan dari berbagai catatan pelanggaran hak asasi manusia, pembatasan kebebasan berpendapat, serta ketimpangan sosial yang cukup tajam.
Mereka menyebut bahwa banyak nilai dalam Pancasila yang justru tidak tercermin selama era tersebut, khususnya, kemanusiaan yang adil dan beradab (Sila ke-2), keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (Sila ke-5).
“Kami tidak menafikan capaian pembangunan fisik pada masanya. Tetapi tidak adil jika kesuksesan ekonomi dijadikan alasan untuk mengabaikan penderitaan rakyat yang menjadi korban represi politik dan pembungkaman demokrasi,” tambah Ruswana.
DPC GMNI Lebak juga menyerukan kepada generasi muda agar tetap kritis, melek sejarah, dan menjaga kesadaran kolektif tentang pentingnya kebenaran historis sebagai fondasi masa depan bangsa yang lebih adil dan manusiawi
Melalui pernyataan ini, GMNI Lebak ingin mengingatkan bahwa sejarah bukan hanya tentang kemenangan dan pembangunan, tetapi juga tentang keberanian menghadapi masa lalu.
Penghargaan kepada tokoh bangsa seharusnya mencerminkan keberpihakan terhadap nilai-nilai luhur, bukan melupakan luka-luka yang belum sembuh. (*/Sahrul).