Harga Pangan Tertekan Cuaca Mayoritas Melonjak Naik, Pedagang Lebak Keluhkan Sepinya Pembeli

 

LEBAK – Gejolak harga bahan pangan mulai terasa nyata di Pasar Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Sejumlah komoditas kebutuhan pokok mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir, memukul omzet pedagang sekaligus menurunkan daya beli masyarakat.

Lonjakan paling terasa terjadi pada harga daging sapi yang kini menyentuh angka Rp 145 ribu per kilogram. Kondisi tersebut membuat aktivitas jual beli melambat dan jumlah pedagang berkurang drastis.

Suhandi, pedagang daging sapi di Pasar Rangkasbitung, mengungkapkan bahwa kenaikan harga sudah berlangsung beberapa hari terakhir dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Menurutnya, tingginya harga membuat banyak pedagang memilih menahan diri bahkan berhenti berjualan sementara.

“Biasanya lapak daging ramai, sekarang jauh berkurang. Dari belasan pedagang, tinggal beberapa saja yang masih buka. Pembeli juga jauh lebih sepi,” ujar Suhandi, Kamis (29/1/2026).

Ia menjelaskan, kondisi tersebut berdampak langsung pada pendapatan. Jika sebelumnya penjualan daging bisa menghabiskan stok dalam sehari, kini jumlahnya jauh menurun karena masyarakat cenderung mengurangi belanja.

“Sekarang orang beli seperlunya saja. Stok juga masih pakai yang lama karena pasokan baru susah masuk. Kalau kondisi begini terus, jelas kami yang di pasar paling terdampak,” katanya.

Suhandi juga memperkirakan harga daging masih berpotensi naik, terutama menjelang momen hari besar keagamaan.

Ia menyebut tekanan pasokan dan biaya distribusi menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan.

Tak hanya pedagang daging, pedagang sayuran pun merasakan tekanan serupa. Andri, pedagang sayuran di pasar yang sama, menyebut hampir seluruh komoditas mengalami penyesuaian harga akibat terganggunya produksi di tingkat petani.

“Cabai sekarang harganya naik semua. Cabai oranye tembus Rp80 ribu per kilo, cabai rawit hijau sampai Rp60 ribu. Padahal sebelumnya masih jauh lebih murah,”ungkap Andri.

Ia menambahkan, kenaikan juga terjadi pada sayuran lain seperti tomat, buncis, hingga bumbu dapur.

Menurutnya, cuaca ekstrem yang berlangsung cukup lama membuat hasil panen menurun dan distribusi tersendat.

“Banyak kiriman dari daerah produksi berkurang. Hujan terus bikin panen rusak, belum lagi ongkos angkut ikut naik. Akhirnya harga di pasar ikut terdorong,” jelasnya.

Para pedagang berharap adanya perhatian serius dari pihak terkait untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan.

Mereka menilai, jika kondisi ini dibiarkan berlarut, bukan hanya pedagang yang kesulitan, tetapi juga masyarakat kecil yang semakin terbebani memenuhi kebutuhan sehari-hari. (*/Sahrul).

Comments (0)
Add Comment