LEBAK – Menjelang Idul Adha 1446 Hijriah, geliat usaha rumahan di Lebak mulai menggeliat. Salah satunya dirasakan para pandai besi di Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, yang kini tengah sibuk memenuhi pesanan pisau dan golok untuk pemotongan hewan kurban.
Setiap tahun, momentum Idul Adha membawa berkah tersendiri bagi para pengrajin logam tradisional di pelosok Lebak. Tak terkecuali Ebih, seorang perajin pisau yang telah menekuni profesi ini selama empat tahun terakhir.
“Tahun ini pesanan mulai ramai sejak awal April. Kalau biasanya saya bikin sekitar 40 sampai 50 pisau, sekarang bisa tembus 100,” ujar Ebih sambil sesekali mengecek ketajaman pisau yang baru selesai diasah, Jumat (16/5/2025).
Untuk memenuhi lonjakan pesanan, Ebih tak bekerja sendiri. Ia menggandeng rekannya agar produksi tetap berjalan cepat dan tepat waktu.
Setiap hari, mereka bekerja dari pagi hingga malam demi memastikan seluruh pesanan bisa diselesaikan sebelum hari raya tiba.
“Kalau kerja sendiri, jelas kewalahan. Apalagi pembeli maunya jadi sebelum hari H,” ungkapnya.
Ebih mematok harga pisau buatannya di kisaran Rp100.000 hingga Rp150.000, sedangkan golok dijual antara Rp150.000 hingga Rp200.000, tergantung kualitas bahan dan tingkat kerumitan pengerjaan.
Tingginya permintaan tak hanya datang dari warga sekitar, namun juga dari para pedagang yang menjadikan produk Ebih sebagai komoditas tambahan menjelang hari besar Islam tersebut.
Seperti diungkapkan Nurdin, warga setempat yang rutin membeli pisau dan golok dari Ebih untuk dijual kembali.
“Sudah langganan tiap tahun. Kualitasnya bagus, jadi gampang laku di pasar. Menjelang kurban, barang begini cepat habis,” katanya.
Momen Idul Adha tak hanya menjadi ajang berkurban, tetapi juga memberi peluang ekonomi bagi para pelaku usaha lokal seperti Ebih.
Di tengah derasnya produk pabrikan, karya tangan para pandai besi tradisional di Lebak tetap dicari, membuktikan bahwa tradisi dan kearifan lokal masih punya tempat di hati masyarakat. (*/Sahrul).