LEBAK– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 25 Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten (SMHB) menggelar Seminar Program Kerja bertajuk “Ekoteologi dalam Mengatasi Krisis Ekologi Melalui Upaya Nyata Pelestarian Lingkungan Desa Cicaringin”.
Agenda ini digelar pada Rabu (29/7/2026), bertempat di Kantor Desa Cicaringin, Kecamatan Gunung Kencana, Kabupaten Lebak.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 13.00 WIB ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Wandi Assyaid selaku Aktivis Lingkungan Hidup Kabupaten Lebak, Bagas Yulianto sebagai Founder Pemuda Berdampak, serta Ayunda Puti Andini, dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lebak.
Seminar ini turut berkolaborasi dengan komunitas Pemuda Berdampak.
Dalam pemaparannya, Wandi Assyaid menyampaikan bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini seharusnya menjadi pengingat bagi manusia untuk lebih peduli terhadap alam.
Menurutnya, dalam perspektif ekoteologi, manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah di bumi untuk menjaga dan melestarikan lingkungan, bukan justru merusaknya.
Ia menekankan pentingnya membangun potensi generasi muda agar lebih peka terhadap isu pelestarian lingkungan, serta menanamkan kepedulian terhadap kebersihan sejak dini melalui edukasi dan aksi nyata di masyarakat.
Ia juga menyoroti pentingnya kehadiran local champions, yakni tokoh atau penggerak lokal yang mampu menjadi contoh sekaligus menggerakkan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
“Setiap tindakan yang dilakukan manusia akan memberikan dampak terhadap kehidupan di masa depan. Sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi sesama, sehingga menjaga lingkungan juga merupakan bentuk kebermanfaatan bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Bagas memaparkan bahwa masih terdapat berbagai ketimpangan, baik dari segi pembangunan infrastruktur maupun pengelolaan lingkungan, khususnya di Kabupaten Lebak yang memiliki wilayah luas dan potensi sumber daya alam melimpah.
Menurutnya, krisis ekologi yang terjadi saat ini tidak hanya disebabkan oleh faktor lingkungan, tetapi juga berawal dari krisis moral manusia.
Sikap serakah dan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan disebutnya menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan.
Ia pun mengajak mahasiswa dan generasi muda untuk memberikan kontribusi nyata sebagai agen perubahan melalui kegiatan edukasi, aksi sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
“Masih banyak persoalan lingkungan yang harus diselesaikan secara bersama-sama melalui kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah, komunitas, dan masyarakat,” katanya.
Kemudian Ayunda, menjelaskan bahwa peningkatan jumlah penduduk turut menyebabkan meningkatnya volume sampah, sehingga diperlukan pengelolaan sampah yang baik mulai dari tingkat rumah tangga.
Ia menyebut masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan, di antaranya dengan membiasakan memilah sampah sejak dari rumah, meningkatkan kesadaran terhadap kebersihan lingkungan, serta mengurangi pencemaran.
Ia mengungkapkan bahwa di Desa Cicaringin sendiri masih terdapat sejumlah persoalan lingkungan, seperti kualitas air yang belum optimal dan kondisi lahan kritis yang cukup luas.
Karena itu, menurutnya, dibutuhkan kerja sama seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Sebagai solusi, Ibu Ayunda mendorong adanya inovasi dan kolaborasi, seperti pembentukan bank sampah, pengolahan sampah organik menjadi kompos, hingga pemanfaatan maggot untuk mengolah sampah organik.
Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi volume sampah sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan dukungan berbagai pihak, upaya pelestarian lingkungan dapat dilakukan secara berkelanjutan demi mencegah krisis ekologi,” tegasnya.
Seminar ini merupakan salah satu program kerja unggulan KUKERTA Kelompok 25 UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten sebagai bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendorong kesadaran dan aksi kolektif masyarakat Desa Cicaringin untuk melestarikan lingkungan.***