LEBAK– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditujukan untuk mendukung pemenuhan gizi anak-anak usia sekolah disebut belum dirasakan oleh sebagian anak di wilayah terpencil Kabupaten Lebak, Banten.
Kondisi tersebut disampaikan warga Desa Pasir Haur, Kecamatan Cipanas. Mereka menyebut hingga kini sejumlah anak sekolah di desa yang berada di kawasan pegunungan tersebut belum menerima makanan dari program MBG.
“Lapor Presiden Prabowo, kami berharap kondisi anak-anak di Pasir Haur bisa mendapat perhatian. Sampai sekarang anak-anak di sini belum merasakan program MBG,” kata seorang warga Desa Pasir Haur, Kamis (1/10/2026).
Menurut warga tersebut, jumlah calon penerima manfaat di Desa Pasir Haur cukup banyak.
Sedikitnya terdapat peserta didik dari lima PAUD, dua sekolah dasar, satu SMP negeri, serta satu MTs yang berada di wilayah tersebut.
“Kalau dihitung dengan anak sekolah, jumlahnya bisa lebih dari seribu. Belum lagi ada ibu menyusui, ibu hamil dan balita yang juga masuk dalam kelompok penerima manfaat,” ujarnya.
Warga menduga kondisi geografis menjadi salah satu tantangan dalam penyaluran program tersebut.
Desa Pasir Haur berada di kawasan pegunungan dengan akses yang relatif jauh, sehingga distribusi makanan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Cipanas dinilai membutuhkan pengaturan khusus.
“Wilayah kami memang jauh dan berada di pegunungan. Mungkin persoalan jarak dan transportasi menjadi kendala. Tetapi kami berharap ada solusi supaya anak-anak di sini tidak tertinggal,” katanya.
Ia menilai persoalan tersebut perlu menjadi perhatian agar pelaksanaan MBG dapat menjangkau anak-anak yang berada di wilayah dengan kondisi geografis berbeda, termasuk desa-desa yang jauh dari pusat kecamatan.
“Kami bukan menolak programnya. Justru kami ingin anak-anak di Pasir Haur juga bisa mendapatkan hak yang sama seperti anak-anak di daerah lain,” tuturnya.
Seorang pelajar SMPN Satap 4 Cipanas, Eneng, juga mengaku ingin mengetahui dan merasakan langsung program MBG yang selama ini menjadi perhatian masyarakat.
“Saya ingin tahu seperti apa makanan bergizi gratis itu. Kapan kami bisa mendapatkannya?” kata Eneng.
Keluhan tersebut sekaligus menjadi harapan warga agar persoalan distribusi MBG di wilayah terpencil dapat dicarikan jalan keluar.
Mereka berharap pemerintah dapat melihat kondisi lapangan secara langsung sehingga pelaksanaan program tidak hanya menjangkau wilayah yang mudah diakses.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait penyebab belum tersalurkannya MBG kepada anak-anak di Desa Pasir Haur.
Konfirmasi dari pihak terkait masih diupayakan oleh Fakta Banten. (*/Sahrul).