Lebak Pasang Target Investasi Fantastis 2026, Arahkan Modal ke Ekonomi Riil Daerah

 

LEBAK– Pemerintah Kabupaten Lebak mulai menggeser strategi pembangunan ekonominya ke level yang lebih agresif.

Pada 2026 mendatang, Pemkab Lebak membidik nilai investasi hingga Rp1,4 triliun, angka yang melonjak tajam dibandingkan realisasi tahun 2025 yang masih berada di kisaran Rp258 miliar.

Lonjakan target tersebut mencerminkan kepercayaan diri pemerintah daerah terhadap daya tarik Lebak sebagai wilayah investasi baru di Banten.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Lebak, Lingga Segara, menyebutkan bahwa penetapan target bukan sekadar ambisi, melainkan hasil pemetaan potensi dan tren ekonomi daerah.

“Lebak memiliki ruang pertumbuhan yang luas. Bukan hanya di sektor properti, tetapi juga pada pengolahan sumber daya alam dan pariwisata. Pemerintah daerah kini fokus mendorong investasi yang memberi nilai tambah bagi ekonomi lokal,” ujar Lingga, Rabu (28/1/2026).

Sepanjang 2025, arus modal yang masuk ke Lebak masih didominasi sektor properti dan jasa penunjang. Pembangunan perumahan, perkantoran, kawasan usaha, hotel, restoran, hingga transportasi menjadi sektor yang paling aktif.

Aktivitas ini dinilai berkontribusi langsung terhadap penciptaan lapangan kerja serta meningkatkan perputaran uang di tingkat masyarakat.

Menurut Lingga, meningkatnya minat investor tidak terlepas dari perbaikan infrastruktur yang terus dilakukan pemerintah. Kehadiran jalan tol dan pengembangan Stasiun Ultimate Rangkasbitung mempercepat konektivitas wilayah, sekaligus memangkas waktu distribusi dan biaya logistik.

“Konektivitas yang baik menjadi faktor krusial bagi investor. Ketika akses terbuka, biaya usaha lebih efisien dan risiko bisa ditekan,” jelasnya.

Untuk merealisasikan target investasi 2026, DPMPTSP Lebak tidak hanya mengandalkan promosi konvensional.

Pendekatan dilakukan secara aktif dan berjenjang, mulai dari penguatan layanan perizinan di tingkat kabupaten hingga koordinasi lintas sektor dengan pemerintah provinsi dan kementerian terkait.

Strategi tersebut disesuaikan dengan karakter investor yang semakin beragam, baik dari skala kecil-menengah hingga penanam modal berskala besar.

Selain infrastruktur, Lebak juga dinilai memiliki keunggulan kompetitif lain, yakni struktur upah yang relatif kompetitif dibandingkan kawasan industri padat di sekitar Jabodetabek.

Faktor ini menjadi daya tarik tersendiri bagi investor yang membutuhkan efisiensi tanpa mengurangi produktivitas tenaga kerja.

“Komitmen kami jelas, investasi yang masuk harus sehat, berkelanjutan, dan memberi dampak langsung bagi masyarakat. Lebak tidak hanya mengejar angka, tetapi kualitas investasi,”tegas Lingga.

Dengan kombinasi potensi sumber daya, infrastruktur yang semakin terbuka, serta kebijakan daerah yang pro-investasi, Pemkab Lebak optimistis target Rp1,4 triliun bukan sekadar rencana, melainkan pijakan menuju transformasi ekonomi daerah. (*/Sahrul).

Comments (0)
Add Comment