LEBAK – Tradisi saba budaya Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, mengalami penurunan signifikan jumlah pengunjung selama libur Tahun Baru 2026.
Kondisi itu berbanding terbalik dengan tahun-tahun sebelumnya yang mampu menarik hingga 3.000 orang per hari.
Tetua Adat Baduy sekaligus Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, mengungkapkan bahwa selama tiga hari terakhir jumlah pengunjung yang datang diperkirakan hanya sekitar 400 orang.
“Selama tiga hari ini, pengunjung saba budaya Baduy yang datang ke sini diperkirakan sekitar 400 orang,” kata Jaro Oom saat dihubungi di Rangkasbitung, Sabtu (3/1/2026).
Sepinya wisatawan tersebut berdampak langsung pada roda perekonomian masyarakat adat, khususnya pedagang dan perajin lokal.
Omzet penjualan anjlok drastis dibandingkan libur tahun baru sebelumnya, bahkan kerugian ditaksir mencapai jutaan rupiah.
Meski demikian, para pedagang dan perajin kain tenun serta tas koja tetap bertahan. Mereka terlihat duduk-duduk di bale rumah sambil menunggu kedatangan pengunjung.
Menurut Jaro Oom, salah satu faktor penyebab minimnya kunjungan tahun ini adalah menurunnya musim durian.
Pada tahun 2024 lalu, panen durian melimpah hingga memicu lonjakan wisatawan dan kemacetan kendaraan menuju kawasan Baduy.
“Kami meyakini sepinya pengunjung saba budaya Baduy tahun ini karena musim durian relatif kecil, tidak seperti tahun 2024 yang panennya melimpah,” jelasnya.
Hal senada disampaikan Pulung (45), pedagang asal Baduy Luar, Desa Kanekes.
Ia mengaku selama libur tahun baru 2026 belum mampu menjual satu pun hasil kerajinan yang ditawarkannya.
“Omzet libur tahun baru sangat sepi. Sampai sekarang belum ada yang terjual,” ujar Pulung.
Selama dua hari terakhir, perkampungan masyarakat Baduy tampak lengang dari aktivitas wisatawan.
Padahal, jumlah pedagang yang membuka lapak di kawasan permukiman Baduy cukup banyak untuk menyambut pergantian tahun.
“Kami tetap berjualan di bale rumah meski pengunjung sepi,” tambahnya.
Beragam produk kerajinan khas Baduy tetap dipajang, mulai dari kain tenun, batik, kaos, tas koja, suvenir, golok, minuman jahe, gula aren, ikat kepala (lomar), selendang, hingga madu.
Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp350 ribu.
“Kalau pengunjung saba budaya Baduy sepi, pendapatan pasti menurun drastis dan sering kali barang tidak laku,” pungkas Pulung.***