SERANG – Aksi penyampaian aspirasi Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Serang (Hamas) di kawasan Pendopo Kabupaten Serang, Kamis (8/10/2026) malam, berujung kericuhan.
Sejumlah peserta aksi mengaku mengalami luka setelah terjadi bentrokan dengan aparat kepolisian dan petugas keamanan.
Hamas juga menyebut beberapa pengurus mereka diamankan dan dibawa ke Polres Serang Kota.
Kericuhan berlangsung sekitar pukul 21.00 WIB. Sebelumnya, aksi dalam rangka menyampaikan sejumlah aspirasi bertepatan dengan momentum Hari Jadi Kabupaten Serang ke-500 tersebut disebut berjalan relatif kondusif.
Situasi berubah setelah massa melakukan pembakaran ban dan mencoret bagian dinding Pendopo Kabupaten Serang.
Salah seorang anggota Hamas, Mamat, mengatakan ketegangan mulai meningkat ketika aparat memberikan instruksi kepada barisan pengamanan untuk bersiap.
Menurutnya, tak lama setelah terdengar instruksi tersebut, lampu di sekitar lokasi aksi dimatikan dan situasi kemudian berubah menjadi ricuh.
“Yang pertama sudah ada gerak-gerik. Si polisi itu kan sudah ngasih instruksi, ‘Siap gerak, siap gerak’. Itu sudah sempat dengar,” ujar Mamat.
Ia melanjutkan, setelah lampu dimatikan, terjadi kericuhan antara massa aksi dan aparat.
“Benar tuh, siap gerak, siap gerak, langsung matiin lampu. Ya sudah chaos,” katanya.
Dalam kondisi yang disebut gelap dan tidak terkendali, sejumlah peserta aksi mengaku mendapatkan tindakan kekerasan dari aparat.
Mamat menyebut terdapat peserta perempuan yang menangis setelah diduga terkena pukulan.
Kericuhan kemudian melebar hingga kawasan luar gerbang Pendopo Kabupaten Serang.
Mamat juga mengklaim Ketua Umum Hamas yang telah berada dalam kondisi tidak berdaya masih mendapatkan pukulan dari sejumlah aparat.
Sejumlah pengurus Hamas yang hendak mengambil kendaraan mereka juga disebut dikejar dan diamankan petugas.
Menurut Mamat, sedikitnya lima orang pengurus Hamas dibawa ke Polres Serang Kota.
“Tadinya mah tiga doang. Si Adul sama si Nedi berdua, lima orang perkiraan,” ujar Mamat.
Ia mengatakan sempat kehilangan kontak dengan beberapa rekannya yang diamankan.
Di tengah situasi tersebut, Mamat mengaku berusaha membawa sejumlah peserta lainnya ke tempat yang lebih aman.
“Akhirnya gua ngamanin beberapa orang, enam orang dibawa ke tempat aman,” katanya.
Mamat juga menyebut hampir seluruh peserta aksi mengalami luka, meskipun sebagian disebut hanya mengalami luka ringan.
“Rata-rata luka semua,” ujarnya.
Ia mengaku mengetahui kondisi sejumlah rekannya secara lebih jelas setelah melihat sejumlah rekaman video yang memperlihatkan kericuhan.
“Setelah kita lihat di video itu kan parah, sampai yang ditonjok gitu. Rata-rata teman-teman juga pasti kecewa. Hampir rata-rata luka semua,” katanya.
Mamat mempertanyakan tindakan aparat dalam mengamankan aksi penyampaian pendapat tersebut.
Menurut dia, aparat semestinya berperan menjaga keamanan agar massa dapat menyampaikan aspirasi secara tertib, bukan membuat situasi semakin memanas.
“Seharusnya yang pertama mereka bertugas untuk mengamankan. Bukan untuk membubarkan atau meng-chaos-kan situasi,” tegasnya.
Ia menjelaskan, tuntutan utama Hamas sebenarnya sederhana.
Mereka berharap Bupati Serang atau pejabat yang memiliki kewenangan dapat menemui massa dan mendengarkan aspirasi secara langsung.
Dalam aksi tersebut, massa juga membawa lumpur sebagai simbol keresahan masyarakat yang sehari-hari menghadapi persoalan tersebut.
Mamat mengatakan lumpur sengaja dibawa sebagai bentuk ekspresi agar pemerintah melihat secara langsung persoalan yang dirasakan masyarakat.
“Keinginan Hamas simpel, tanpa harus ada kekerasan. Cukup dihadirkan Bupati atau pihak yang punya kebijakan agar tuntutan kami tersampaikan,” katanya.
Menurutnya, aksi membawa lumpur berbeda dengan tindakan yang dapat membahayakan atau merusak fasilitas secara serius.
“Kalau misalkan pembakaran pos polisi, itu memang sudah di luar, fatal. Kalau ini kan kita membawa lumpur, bentuk ekspresif karena warga kami setiap hari mengalami lumpur tersebut,” ujarnya.
Mamat memperkirakan sekitar 30 orang mengikuti aksi tersebut. Ia menyebut sebagian besar peserta mengalami luka, meskipun mayoritas diklaim berupa luka ringan.
“Yang ikut itu total ada 30 orang. Hampir semuanya luka, walaupun luka ringan. Tapi hampir semuanya kena,” katanya.
Ia kembali menegaskan Hamas tidak menginginkan aksi penyampaian aspirasi tersebut berakhir dengan kekerasan.
“Kita Hamas sendiri memang keinginannya simpel tanpa harus ada kekerasan, cukup dihadirkan Bupati atau pihak yang memiliki kebijakan tersebut agar tuntutan kami ini tersampaikan. Akan tetapi, kondisi di lapangan tadi APH, aparat penegak hukum, malah bertindak seperti itu,” ucap Mamat.
Selain dugaan kekerasan terhadap peserta aksi, terdapat pula peristiwa lain yang menjadi perhatian di sekitar lokasi demonstrasi.
Berdasarkan pantauan di lapangan, seorang anggota kepolisian terlihat memeriksa telepon seluler milik seorang pedagang yang berada di sekitar kawasan Pendopo Kabupaten Serang.
Belum diketahui secara pasti alasan pemeriksaan tersebut maupun dasar hukumnya.
Pemeriksaan itu diduga berkaitan dengan rekaman kericuhan yang beredar di sekitar lokasi.
Namun, informasi tersebut masih sebatas dugaan dan belum mendapatkan penjelasan resmi dari pihak kepolisian.
Rangkaian kejadian tersebut memunculkan pertanyaan mengenai pola pengamanan aksi demonstrasi di Kabupaten Serang, khususnya terkait dugaan kekerasan terhadap peserta aksi serta tindakan aparat terhadap warga yang berada di sekitar lokasi.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian mengenai dugaan kekerasan maupun pengamanan sejumlah peserta aksi.
Wartawan telah berupaya menghubungi pihak Humas Polda Banten dan Polresta Serang Kota untuk meminta konfirmasi terkait kejadian tersebut.***