Pendidikan Tinggi Masih Jadi Mimpi Mahal di Lebak, IMALA Dorong Kolaborasi Kampus untuk Atasi Ketimpangan

 

LEBAK– Akses pendidikan tinggi di Kabupaten Lebak masih jauh dari kata ideal. Di tengah berbagai program nasional untuk menciptakan SDM unggul, fakta di lapangan menunjukkan banyak anak muda Lebak, khususnya dari daerah pedalaman, masih terkunci dalam lingkaran keterbatasan ekonomi, infrastruktur pendidikan, dan minimnya informasi soal kuliah.

Merespons kondisi ini, Ikatan Mahasiswa Lebak (IMALA) mengambil langkah konkret dengan menjalin kemitraan strategis bersama sejumlah perguruan tinggi swasta di Banten.

Salah satunya adalah kunjungan resmi ke Politeknik Piksi Input Serang, sebagai awal dari rangkaian sinergi yang lebih luas.

“Kami tidak sedang bicara soal prestise, tapi realita. Anak-anak muda di pedalaman Lebak masih banyak yang bahkan tak sempat membayangkan bisa kuliah,” ujar Ridwanul Maknunah, Ketua Umum IMALA, Senin (4/8/2025).

Menurut Ridwanul, sistem pendidikan nasional yang kerap memusat di kota besar cenderung meninggalkan daerah-daerah pinggiran seperti Lebak.

Banyak lulusan SMA sederajat akhirnya bekerja serabutan, bukan karena tak mampu, melainkan karena tak tahu ke mana harus melangkah.

“Ada anak lulusan SMK di Lebak Selatan yang kerja jadi buruh bangunan. Bukan karena dia bodoh, tapi karena tak tahu apa itu PTS, jalur beasiswa, atau kelas afirmasi. Inilah yang ingin kami ubah,” tegasnya.

IMALA menilai bahwa ketimpangan pendidikan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal perhatian.

Banyak potensi anak muda di Lebak yang tersia-siakan hanya karena kurangnya jembatan informasi dan dukungan sistemik.

Langkah awal IMALA adalah membangun komunikasi langsung dengan kampus, seperti dilakukan dengan Politeknik Piksi Input Serang, untuk menciptakan jalur afirmatif, beasiswa terarah, hingga kelas komunitas berbasis desa.

Direktur Politeknik Piksi Input Serang, Yeti Asmawati, S.E., M.M., menyambut baik gerakan yang diinisiasi IMALA dan mengapresiasi semangat mahasiswa asal Lebak dalam memperjuangkan pendidikan yang lebih adil.

“Kami siap menjajaki kerja sama. Ini langkah penting agar kampus tak hanya hadir di kota, tapi menjangkau pelosok,” ujarnya.

Bagi IMALA, pendidikan bukan kemewahan. Tetapi di Lebak, kuliah masih jadi mimpi mahal terutama bagi anak-anak dari keluarga tani, buruh, atau nelayan.

Mereka menekankan bahwa kehadiran negara dan dunia kampus harus menyentuh realitas akar rumput, bukan hanya berhenti pada jargon-jargon pemerataan.

“Kampus seharusnya turun, bukan menunggu. Jika tidak ada keberpihakan nyata, maka pendidikan hanya jadi milik kelas menengah kota,” ujar salah satu pengurus IMALA.

Langkah kolaboratif ini ke depan akan diperluas. IMALA menargetkan menjalin kemitraan dengan lebih banyak perguruan tinggi, mendorong terbentuknya pendampingan masuk perguruan tinggi, kelas bimbingan komunitas, serta konseling pendidikan desa. (*/Sahrul).

ImalaLebakPendidikan tinggi
Comments (0)
Add Comment