LEBAK – Parade rakit yang dilombakan di Desa Suwakan, Kampung Suwakan, Kecamatan Bayah menjadi bagian rangkaian kemeriahan dalam rangka memperingati hari Pahlawan pada tahun 2018, Rabu (7/11/2018).
Selain untuk menggelorakan semangat masyarakat, kegiatan tersebut juga untuk mengenang jasa 13 tokoh masyarakat yang ditembak mati pada 1948 oleh tentara Belanda karena telah menghalangi tujuan penjajah menguasai tambang emas di wilayah Cikotok.
Kegiatan tersebut dimeriahkan oleh seluruh masyarakat, mulai dari anak-anak hingga dewasa pun datang untuk menonton perlombaan parade rakit tersebut.
“Dulu, para masyarakat itu dikumpulkan terlebih dahulu, kalau gak mau kumpul diancam ditembak mati, setelah dikumpulkan semuanya, satu kampung rumahnya dibakar, setelah itu tetap saja 13 orang ini ditembak mati,” kata Edi Rapiudin Kepala Desa saat sedikit menceritakan kronologi.
Dikatakan Kepala Desa Suakan, Edi Rapiudin, bahwa kegiatan parade rakit ini bisa menjadi ikon tahunan setiap memperingati hari Pahlawan sekaligus mendorong wisata di Suakan.
“Semoga ini bisa menjadi tradisi kegiatan di Desa Suakan, dari tahun ke tahun parade rakit ini selalu ramai, ini juga tidak dilakukan di daerah lain,” ucapnya.
Ia juga berharap, ke depan masyarakat mampu mempertahankan kegiatan yang sudah berjalan selama dua tahun di setiap peringatan hari Pahlawan.
Selain itu, rencananya di tahun depan kegiatan ini akan diperlombakan secara umum setiap tahunnya.
“Pertahankan apa yang sudah dilakukan untuk memperingati kegiatan hari Pahlawan di Suwakan ini. Ke depan saya ingin ada mekanisme lain, bisa jadi nanti kegiatan ini di-open-kan, jadi ada anak-anak, ibu-ibu, atau nelayan serta mungkin saja ada peserta dari luar yang ingin mengikuti kegiatan ini,” harapnya.
Diketahui, rangkaian kegiatan tersebut dimulai sejak 6 hingga 10 November 2018 dengan beberapa perlombaan yang dipertandingkan. Sementara di malam puncak pada 9 November 2018 akan dilaksanakan pawai obor dari lokasi penembakan 13 orang tersebut hingga ke makam pahlawan.
Salah satu warga yang juga ikut dalam perlombaan parade rakit tersebut, Marnaesih mengaku bahwa hadiah dalam perlombaan tidak lah penting, sebab dengan ikut andil memeriahkan hari Pahlawan juga sudah cukup baginya menghargai jasa-jasa pejuang jaman dulu.
“Ikut memeriahkan hari pahlawan, ini yang kedua kali, seneng, gak masalah juara mah gak perlu hadiahnya yang penting memeriahkan hari pahlawan,” serunya.
Senada dengan Marnaesih, Inggit, salah satu peserta regu putra, juga mengakui tidak semestinya mengikuti perlombaan di hari pahlawan harus menjadi juara dan mendapatkan hadiah, sebab dalam kegiatan peringatan hari pahlawan peran pemuda sangatlah penting bagi kemajuan bangsanya.
“Tahun kemarin udah diadakan, ini diadakan yang kedua kalinya, juga sebagai bentuk untuk evaluasi kali Cimadur ini, acaranya seru banget, kalo juara gak ada permasalah yang paling penting ikut berpartisipasi untuk memeriahkan hari Pahlawan,” tandasnya. (*/Dave)
[socialpoll id=”2521136″]