LEBAK– Harapan baru muncul bagi para petani penggarap di Desa Muara Dua, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, usai mencuatnya kasus dugaan intimidasi dan perusakan lahan yang terekam dalam video amatir dan sempat menggegerkan jagat maya.
Meski insiden tersebut meninggalkan trauma dan kerugian, para petani kini menyebut telah ada titik terang dari konflik yang sempat membara.
Kemal, salah satu tokoh petani, mengungkap bahwa sudah ada titik terang dalam persoalan tersebut.
“Titik terang mulai terlihat. Untuk info lebih lanjut, bisa menghubungi Pak Sukandar Rais,” ujarnya saat ditelepon, pada Rabu (23/7/2025).
Namun, ketika dikonfirmasi, Pak Sukandar menyampaikan bahwa dirinya sedang dalam perjalanan dan akan memberikan keterangan resmi dalam waktu dekat.
Insiden ini terjadi Sabtu pagi, 12 Juli 2025, sekitar pukul 08.00 WIB. Saat itu, beberapa petani sedang menggarap lahan menanam pisang, jagung, dan kelapa di wilayah Kampung Pasir Kaweni.
Menurut keterangan warga, sekelompok pria diduga berjumlah sekitar seratus orang tiba-tiba mendatangi area ladang dengan membawa senjata tajam.
Eep Julat, petani yang berada langsung di lokasi, mengaku kaget dan panik saat kelompok pria tersebut diduga merusak tanaman serta merobohkan pondok-pondok istirahat milik petani.
“Saya sedang tanam pisang, belum satu jam kerja, tiba-tiba mereka datang. Ada yang teriak-teriak. Tanaman dirusak, gubuk kami dijatuhkan,” jelasnya.
Dalam video berdurasi 1 menit 45 detik yang kini viral, terlihat seorang pria dari kelompok tersebut diduga mengacungkan parang sambil melontarkan ancaman bernada keras.
Di sisi lain, pihak keamanan perusahaan PT Cibiuk turut memberikan klarifikasi atas tudingan yang berkembang. Jaya, salah satu petugas yang wajahnya tampak dalam video, membantah keras bahwa pihaknya melakukan kekerasan.
Ia menuturkan bahwa insiden itu terjadi saat tim keamanan menindaklanjuti informasi adanya dugaan penanaman tanaman jangka panjang di lahan yang diklaim sebagai aset perusahaan.
“Kami tidak datang untuk menyerang. Kami justru mengamankan situasi. Kalau tanaman jangka pendek seperti jagung atau singkong, kami tidak ganggu. Tapi kalau pohon kelapa, itu indikasi permanen, dan perusahaan meminta kami untuk menjaga,” terang Jaya.
Ia mengklaim bahwa golok yang tampak di video bukan miliknya, melainkan milik salah satu warga yang sempat akan mencabutnya saat terjadi adu argumen.
“Golok itu saya amankan karena khawatir disalahgunakan. Bukan untuk menakut-nakuti. Kalau videonya utuh, akan terlihat bahwa saya tidak pernah menarik senjata dari pinggang saya,” imbuhnya.
Terkait kerusakan tanaman dan robohnya gubuk petani, Jaya menyatakan bahwa dirinya tidak melihat langsung pelakunya. Namun, ia tidak menampik bahwa suasana saat itu sempat memanas.
“Saya sendiri tidak tahu siapa yang rusak gubuk. Tapi saya pastikan, tidak ada kekerasan dari pihak kami. Bahkan perusahaan juga merasa dirugikan karena beberapa pohon karet milik mereka diduga dibakar,” katanya.
Namun, hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari kepolisian setempat terkait dugaan pengrusakan, kepemilikan senjata tajam, maupun benturan antara pihak petani dan keamanan.(*/Sahrul).