LEBAK – Aksi tangkas dan responsif ditunjukkan jajaran Polres Lebak Polda Banten usai viralnya video perkelahian antar pelajar di media sosial.
Tak menunggu lama, aparat bergerak cepat melakukan identifikasi dan langsung mengamankan para pelaku, pada Kamis (31/7/2025).
Menurut keterangan resmi yang disampaikan Kanit Kriminal Umum Satreskrim Polres Lebak, Ipda Sutrisno, S.H., M.H., video duel antar pelajar tersebut terekam di area galian tanah di wilayah Kampung Cimesir, Desa Rangkasbitung Timur, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten.
Video berdurasi pendek yang menunjukkan perkelahian satu lawan satu antar siswa tersebut mulai beredar luas pada Selasa (29/7/2025) dan memancing reaksi masyarakat.
Tidak tinggal diam, Tim Satreskrim langsung melakukan penelusuran digital dan investigasi lapangan.
Hasilnya mengejutkan insiden ternyata terjadi sepekan sebelumnya, tepatnya pada Senin (21/7/2025).
“Dari hasil penyelidikan, kami menemukan bahwa insiden ini melibatkan dua kelompok pelajar dari dua sekolah berbeda di Kalanganyar dan di Rangkasbitung,” jelas Ipda Sutrisno.
Sebanyak 18 pelajar berhasil diamankan, masing-masing berinisial: FK, DP, AY, MH, BM, MF, RP, MR, MA, AG, RH, RD, DM, MG, MF, SS, SP, dan AH.
Tidak sekadar menindak, Polres Lebak juga mengedepankan pendekatan edukatif dalam menangani kasus ini.
Berbagai langkah diambil guna mencegah konflik susulan dan mengembalikan situasi ke jalur pendidikan.
“Para siswa yang terlibat langsung kami amankan, kemudian kami berkoordinasi dengan pihak sekolah, guru, UPTD PPA, serta memanggil orang tua atau wali masing-masing. Kami juga memfasilitasi penyelesaian dengan surat pernyataan damai dari kedua belah pihak,” ujar Sutrisno.
Langkah ini menjadi contoh pendekatan restorative justice yang mengedepankan pembinaan, bukan semata-mata hukuman.
Polres Lebak mengimbau semua pihak mulai dari orang tua, guru, hingga tokoh masyarakat untuk lebih aktif dalam mengawasi aktivitas pelajar, baik di sekolah maupun luar jam belajar.
Peran serta semua elemen dinilai krusial untuk menekan potensi konflik remaja yang kini makin mudah tersebar di media sosial. (*/Sahrul).