LEBAK– Suasana Ramadan yang identik dengan kebersamaan dan meningkatnya aktivitas konsumsi rupanya membawa konsekuensi tersendiri bagi lingkungan.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lebak mencatat adanya lonjakan volume sampah selama bulan suci tahun 2026 ini. Kenaikannya diperkirakan menyentuh angka sekitar 10 persen dibandingkan hari-hari biasa.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lebak, Irvan Suyatupika, mengungkapkan bahwa tren peningkatan ini sudah mulai terasa sejak awal Ramadan. Menurutnya, produksi sampah harian mengalami kenaikan yang cukup signifikan, meski masih dalam batas yang bisa ditangani.
“Secara umum ada kenaikan kurang lebih 10 persen. Ini pola yang hampir selalu terjadi setiap Ramadan,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Irvan menjelaskan, lonjakan sampah didominasi limbah rumah tangga. Aktivitas memasak untuk sahur dan berbuka, serta meningkatnya pembelian makanan siap saji, menjadi faktor utama.
Jenis sampah yang paling banyak ditemukan antara lain, sisa bahan makanan dan limbah dapur, kemasan plastik makanan minuman, dan bungkus takjil sekali pakai.
Menurutnya, perubahan pola konsumsi masyarakat selama Ramadan membuat volume sampah organik dan anorganik meningkat bersamaan.
“Yang paling dominan itu sampah dapur dan bungkus plastik. Aktivitas warga memang lebih tinggi dibanding hari biasa,” jelasnya.
Meski terjadi peningkatan, DLH memastikan daya tampung tempat pembuangan akhir (TPA) di Lebak masih memadai. Untuk distribusi pembuangan, wilayah selatan diarahkan ke TPA Cihara, sedangkan wilayah utara ke TPA Dengung.
Pengaturan ini dilakukan agar beban tidak menumpuk di satu titik dan proses pengelolaan tetap berjalan optimal selama Ramadan.
“Kapasitas masih aman. Wilayah selatan ke Cihara, wilayah utara ke Dengung,” terang Irvan.
DLH juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke aliran sungai.
Selain mencemari lingkungan, kebiasaan tersebut berpotensi memicu banjir dan gangguan kesehatan.
Momentum Ramadan, kata Irvan, seharusnya juga menjadi waktu untuk meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.
“Jangan sampai sampah dibuang ke sungai atau sembarang tempat. Dampaknya bisa panjang, mulai dari pencemaran hingga banjir,” tegasnya.
Di tengah meningkatnya konsumsi selama Ramadan 2026, kesadaran kolektif warga Lebak menjadi kunci agar lonjakan sampah tidak berubah menjadi persoalan lingkungan.
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menahan diri dari kebiasaan yang merugikan alam. (*/Sahrul).