Ramadan 2026, Tradisi Ngaji Kitab Kuning di Lebak Tetap Hidup di Tengah Era Digital

 

LEBAK– Bulan Ramadan di Kabupaten Lebak tak hanya identik dengan suasana sahur dan tarawih. Di balik gema lantunan ayat suci Al-Quran, tradisi ngaji Kitab Kuning kembali menghidupkan denyut keilmuan Islam klasik di berbagai pesantren dan masjid.

Di sejumlah pondok pesantren di Rangkasbitung hingga pelosok kecamatan, para santri tampak duduk bersila selepas Subuh atau usai Tarawih.

Di hadapan mereka, kitab-kitab berwarna kekuningan terbuka, membahas fiqih, tauhid, hingga tasawuf.

Tradisi ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari identitas religius masyarakat Lebak.

Salah satu pengasuh pesantren di Lebak, Kiai Adi Wibowo, menegaskan bahwa ngaji Kitab Kuning memiliki makna lebih dari sekadar kegiatan keagamaan musiman.

“Ini bukan hanya tradisi tahunan, tetapi warisan intelektual Islam. Dari kitab-kitab ulama terdahulu, kita belajar memahami agama secara mendalam dan menyeluruh,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).

Ramadan menjadi momentum istimewa karena semangat belajar meningkat tajam. Tidak hanya santri mukim, banyak pemuda yang tengah libur sekolah atau kuliah turut memanfaatkan waktu untuk mengikuti pengajian di pesantren maupun majelis taklim.

Ustaz Fauzan, pengajar kitab di salah satu pesantren di Rangkasbitung, menilai keberlangsungan tradisi ini tidak lepas dari peran keluarga dan lingkungan.

“Orang tua di Lebak masih sangat peduli pada pendidikan agama anaknya. Ramadan dianggap waktu terbaik untuk memperdalam ilmu dan memperbaiki diri,” katanya.

Secara historis, Kitab Kuning merujuk pada karya-karya ulama klasik yang menjadi rujukan utama dalam pendidikan pesantren.

Metode pengajarannya pun khas, menggunakan sistem sanad rantai keilmuan yang tersambung dari guru ke guru hingga Rasulullah SAW. Inilah yang membuat tradisi tersebut memiliki nilai otentisitas dan legitimasi keilmuan yang kuat.

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan kemudahan akses ceramah melalui internet, masyarakat Lebak tetap memegang teguh pola belajar tatap muka.

Interaksi langsung antara santri dan kiai dinilai menghadirkan kedalaman pemahaman yang tidak tergantikan oleh layar gawai.

Tradisi ngaji Kitab Kuning di bulan Ramadan pun menjadi cermin bahwa modernitas tidak selalu menghapus akar budaya. Justru di Lebak, nilai-nilai keilmuan klasik terus dirawat berdampingan dengan perkembangan zaman.

Ramadan tahun ini kembali membuktikan bahwa di tanah Multatuli, cahaya ilmu tak pernah padam. Dari lembaran kitab yang sederhana, lahir generasi yang diharapkan tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga matang dalam pemahaman agama. (*/Sahrul).

Comments (0)
Add Comment