LEBAK -Prestasi gemilang tim bola tangan Kabupaten Lebak di Kejurda (Kejuaraan Daerah) Banten 2025 kembali membuka ruang diskusi publik soal dukungan terhadap atlet daerah.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan pembiayaan, para atlet muda mampu mengharumkan nama daerah dengan segala upaya mandiri.
Menanggapi hal ini, Plt Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Lebak, Nevi Pahlevi, menyampaikan apresiasi atas semangat dan dedikasi para atlet serta pengurus cabang olahraga.
Ia menyebut, keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa semangat juang tidak selalu bergantung pada anggaran.
Namun demikian, Nevi mengingatkan bahwa sesuai dengan ketentuan yang berlaku, pembinaan atlet non-pelajar memang menjadi ranah dan kewenangan KONI serta pengurus cabang olahraga (Pengcab), bukan berada di bawah tanggung jawab langsung Pemkab atau Dispora.
“Untuk ajang seperti Kejurda yang merupakan agenda internal asosiasi, tentu peran utama ada pada Pengcab dan KONI sebagai induk pembinaan atlet non-pelajar. Kami di Dispora lebih berfokus pada jalur pelajar dan event seperti Popda,” ujar Nevi saat dikonfirmasi, Rabu (30/7/2025).
Lebih jauh, Nevi menjelaskan bahwa ruang fiskal pemerintah daerah saat ini cukup terbatas, terutama dengan adanya Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 yang mengatur ketat pembiayaan perjalanan dinas.
Sehingga, alokasi bantuan di luar program resmi berisiko melanggar aturan yang berlaku.
“Kami tentu sangat mendukung atlet yang berprestasi, namun mekanisme penganggaran juga harus taat aturan. Jika dipaksakan keluar dari koridor, justru berpotensi menimbulkan masalah hukum di kemudian hari,” katanya.
Sebagai bentuk solusi, Dispora mendorong agar asosiasi olahraga di Lebak mulai membangun sistem kemandirian pembiayaan, seperti menjalin kemitraan dengan sponsor atau pihak ketiga lainnya.
“Kami sangat terbuka jika dibutuhkan rekomendasi administratif untuk pengajuan sponsor. Tapi tentu, organisasi juga harus aktif dalam membangun jejaring dan memperkuat daya tarik cabor masing-masing,” ungkapnya.
Dengan bahasa yang diplomatis, Nevi juga berharap KONI dan Pengcab dapat semakin responsif dalam memfasilitasi dan mengakomodasi kebutuhan atlet, khususnya pada level non-pelajar.
Menurutnya, sinergi dan distribusi peran yang jelas sangat penting agar prestasi olahraga di Kabupaten Lebak dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Di sisi lain, keberhasilan atlet bola tangan Kabupaten Lebak tak lepas dari perjuangan penuh keterbatasan.
Ketua Asosiasi Bola Tangan Indonesia (ABTI) Kabupaten Lebak, Wandi Assayid, mengungkapkan bahwa timnya berangkat ke Kejurda dengan dana pribadi hasil patungan.
“Ada yang ngasih Rp500 ribu, ada Rp700 ribu, semua patungan. Hotel tidak sanggup, makan pun kami atur seadanya,” jelasnya.
Kejurda tersebut digelar ABTI Banten di Anyer, Kabupaten Serang, pada 25-27 Juli 2025. Dalam ajang itu, tim putri Lebak menyabet juara satu, dan tim putra membawa pulang juara tiga.
Namun, Wandi mengaku kecewa karena permohonan dukungan ke Pemkab Lebak yang telah dilayangkan sebelum keberangkatan tak mendapatkan jawaban.
“Kami hanya berharap ada perhatian minimal soal fasilitas latihan atau pendampingan. Tapi hingga berangkat pun tak ada respon,” jelasnya.
Menurutnya, pengurus dan atlet hanya ingin menunjukkan bahwa olahraga bola tangan di Lebak memiliki potensi. Namun tanpa dukungan nyata, hal itu menjadi tantangan tersendiri.
“Kita bukan minta lebih, tapi ingin pemerintah lihat bahwa di Lebak ada anak-anak muda yang berprestasi dan ingin berkembang,” tegas Wandi. (*/Sahrul).