Tak Melulu IPK, Mahasiswa Lebak Soroti Makna Sukses di Kampus Lewat Gagasan Rantai Emas

 

LEBAK– Pandangan bahwa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan mahasiswa mulai dipertanyakan.

Sejumlah mahasiswa Lebak menilai, kesuksesan di dunia kampus sejatinya tidak hanya ditentukan oleh angka, melainkan juga oleh proses, pengalaman, serta kemampuan mengembangkan diri.

Gagasan tersebut disampaikan oleh Zakia Fikriyani, mahasiswa yang mengangkat tema “Rantai Emas: Mengubah Paradigma Masyarakat Tentang Mengakui Kesuksesan Bisa Terjadi di Luar Angka”, sebagai refleksi atas realitas kehidupan akademik saat ini.

Menurut Zakia, IPK memang penting dan tetap memiliki peran strategis, terutama dalam urusan akademik formal seperti beasiswa, seleksi program pendidikan, hingga persyaratan kerja.

Namun, menjadikan IPK sebagai satu-satunya standar sukses dinilai terlalu menyederhanakan kompleksitas dunia perkuliahan.

“Banyak mahasiswa fokus mengejar nilai, tapi lupa mengasah kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kerja tim. Padahal kemampuan itu justru sangat dibutuhkan setelah lulus,” ujar Zakia saat diwawancarai, Jumat (23/1/2026).

Ia menjelaskan, dunia kampus sejatinya merupakan ruang belajar yang luas. Selain perkuliahan, mahasiswa memiliki banyak kesempatan untuk mengembangkan soft skills melalui organisasi, kegiatan sosial, kepanitiaan, hingga program magang.

Pengalaman tersebut, kata Zakia, menjadi bagian dari “rantai emas” yang saling terhubung dalam membentuk karakter dan kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja. Relasi dengan dosen, senior, alumni, serta sesama mahasiswa juga menjadi modal sosial yang tidak bisa diukur dengan angka IPK.

“Pengalaman organisasi dan magang mengajarkan tanggung jawab, cara mengambil keputusan, serta menghadapi masalah nyata. Itu pelajaran penting yang tidak selalu didapat di ruang kelas,” jelasnya.

Lebih jauh, Zakia menekankan bahwa setiap mahasiswa memiliki definisi sukses yang berbeda. Ada yang merasa berhasil ketika lulus tepat waktu dengan nilai tinggi, ada pula yang menemukan makna sukses melalui pengembangan potensi diri, kewirausahaan, atau kontribusi sosial di masyarakat.

Karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk mengenali minat dan tujuan hidupnya sejak dini, tanpa terjebak pada perbandingan sosial yang justru bisa menimbulkan tekanan mental.

“Kuncinya adalah keseimbangan. Prestasi akademik tetap dijaga, tapi pengembangan diri juga tidak boleh diabaikan,” tambahnya.

Ia berharap, paradigma masyarakat terhadap kesuksesan mahasiswa dapat lebih terbuka, tidak semata-mata menilai dari angka IPK, melainkan dari proses belajar, pengalaman, dan karakter yang terbentuk selama masa perkuliahan.

“Pada akhirnya, sukses bukan hanya soal angka, tapi tentang bagaimana seseorang bertumbuh dan siap menghadapi kehidupan setelah kampus,” pungkas Zakia. (*/Sahrul).

Comments (0)
Add Comment