LEBAK– Di balik sudut sunyi Kampung Cipadung, Desa Daroyon, Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak, seorang balita berusia dua tahun bernama Amirah Lashira tengah bertaruh nyawa.
Sejak berusia enam bulan, tubuh mungilnya digerogoti kelainan usus langka yang membuat sebagian organ perut menonjol keluar, menuntut operasi berkelanjutan yang hingga kini belum bisa dilakukan.
Setiap harinya, Amirah hanya bisa terbaring lemah, tubuhnya ditempeli selang bantuan pernapasan, sementara ususnya tampak dari luar perut.
Sang ibu, Misnah (22), hampir tak pernah lepas menjaga anaknya siang dan malam. Namun, bukan hanya penyakit yang jadi beban, melainkan juga kenyataan pahit bahwa mereka hampir tak punya apa-apa.
“Beratnya belum sampai sembilan kilogram, jadi operasinya belum bisa dilanjutkan. Dia sering lemas karena kekurangan asupan gizi,” tutur Misnah, lirih pada Rabu (7/5/2025).
Meski pengobatan dasar ditanggung BPJS, tak semua kebutuhan bisa dipenuhi. Susu formula khusus, kantong kolostomi, dan obat tambahan tidak termasuk dalam tanggungan.
Belum lagi biaya bolak-balik ke Rumah Sakit Harapan Kita di Jakarta, yang bisa menghabiskan ratusan ribu rupiah sekali jalan.
“Kalau ke Jakarta bisa habis sampai Rp300 ribu hanya untuk ongkos. Sementara susu kaleng untuk tiga hari harganya Rp230 ribu. Kami sering bingung harus pilih yang mana,” ungkap Misnah.
Ahmad (28), ayah Amirah, hanya bisa menatap langit ketika ditanya soal penghasilan.
Ia sehari-hari bekerja sebagai pemulung, mengumpulkan barang bekas untuk dijual kembali.
Pendapatannya tak menentu kadang tak cukup untuk membeli satu kaleng susu pun.
“Kadang tiga hari cuma dapat Rp30 ribu. Padahal buat susu, pampers, air minum bisa butuh Rp400 ribu,” ucap Ahmad dengan suara bergetar.
Hingga kini, pasangan muda ini belum mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah.
Bukan karena tak butuh, tapi karena takut proses panjang dan beban tambahan yang justru makin menyulitkan.
“Kami takut nanti malah ada biaya tambahan yang enggak kami sanggupin,” jelas Ahmad.
Amirah masih menunggu keajaiban. Di tengah kondisi tubuhnya yang kian melemah, keluarga kecil ini terus berharap akan ada uluran tangan dari mereka yang tergerak hatinya.
Seberkas cahaya harapan masih mereka jaga, meski samar.
“Kami cuma bisa berdoa dan berusaha. Kalau sudah mentok, kami pasrahkan semuanya pada yang di atas,” tutup Ahmad, menahan air mata.(*/Sahrul).