Warga Adat Cisungsang Lebak Keluhkan Jalan Rusak Puluhan Tahun, Dugaan Pembiaran Pemerintah Muncul Jelang Seren Taun

 

LEBAK– Jalan poros penghubung antar desa yang membentang dari Pasir Kuray menuju Jembatan Cikidang di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten, kian rusak parah dan membahayakan.

Warga menduga, kondisi ini terjadi akibat kelalaian dan minimnya perhatian dari pemerintah daerah, padahal jalur tersebut merupakan urat nadi ekonomi dan budaya masyarakat adat setempat.

Kerusakan jalan berada di wilayah Desa Cisungsang, yang menjadi jalur penghubung utama antar empat desa: Kujang Jaya, Situ Mulya, Gunung Wangun, dan Kujangsari.

Tak hanya sebagai akses harian, jalan ini juga krusial bagi mobilitas masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai leluhur.

Abah Usep Suyatma, selaku pemangku adat Kasepuhan Cisungsang, mengaku sudah bertahun-tahun menyuarakan keluhan kepada pemerintah terkait kondisi jalan tersebut.

Namun hingga kini, menurutnya, belum ada satu pun respon konkret yang diberikan.

“Jalan ini bukan sekadar tanah dan batu. Ini urat nadi ekonomi dan budaya masyarakat adat. Tapi sayangnya, kami merasa justru dibiarkan bertahun-tahun. Kalau tidak kami tambal sendiri, mungkin sudah banyak korban jatuh,” ujar Abah Usep, Rabu (23/7/2025).

Ia menduga, pembiaran yang terjadi selama ini dapat menimbulkan kecurigaan akan adanya diskriminasi terhadap wilayah-wilayah adat yang jauh dari pusat kekuasaan.

Apalagi menjelang perayaan Seren Taun, kegiatan sakral masyarakat adat Cisungsang, akses tersebut menjadi sangat vital.

Karena tak kunjung ada kepedulian dari pihak berwenang, warga Cisungsang pun melakukan tambal sulam secara swadaya.

Tujuannya sederhana: demi keselamatan pengguna jalan dan kelancaran transportasi kebutuhan pokok masyarakat.

“Kami gotong royong urunan tambal jalan. Tapi ini kan bukan solusi jangka panjang. Seharusnya pemerintah hadir, bukan membiarkan,” imbuh Abah Usep.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Desa Cisungsang, Yani Yuliani, yang menyebut bahwa selama lebih dari satu dekade, jalan penghubung tersebut tak kunjung mendapatkan perhatian atau perbaikan dari Pemerintah Kabupaten Lebak.

“Kondisinya makin parah setiap musim hujan. Akses ini sangat penting bagi pendidikan anak-anak, aktivitas pertanian, hingga pergerakan ekonomi desa. Tapi faktanya, kami seperti tidak dianggap,” ucap Yani.

Yani menegaskan, pihaknya bersama masyarakat meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Lebak agar segera menindaklanjuti keluhan warga, sesuai dengan status dan kewenangan jalan tersebut.

“Kami hanya minta hak kami dipenuhi. Jalan ini akses vital empat desa. Kami tidak menuntut mewah, hanya ingin layak dan aman,” tutupnya.

Seren Taun ritual adat tahunan yang menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Cisungsang terancam tidak berjalan maksimal jika kerusakan jalan terus dibiarkan.

Warga khawatir, tamu dari luar daerah hingga tokoh-tokoh adat sulit menjangkau lokasi akibat rusaknya akses masuk.

Masyarakat berharap, sebelum perayaan Seren Taun digelar dalam waktu dekat, pemerintah bisa menunjukkan komitmennya untuk memperbaiki infrastruktur yang selama ini dianggap diabaikan.

Jika tidak, dikhawatirkan akan muncul keresahan sosial yang lebih luas di kalangan masyarakat adat. (*/Sahrul).

Jalan RusakKasepuhan CisungsangLebak
Comments (0)
Add Comment