LEBAK– Setelah lima tahun berlalu sejak banjir bandang dan longsor besar menerjang Kampung Cigobang, Desa Banjarsari, Kecamatan Lebakgedong, ratusan penyintas masih tinggal di hunian sementara yang jauh dari kata layak.
Pemerintah Kabupaten Lebak, melalui Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPRKPP), menegaskan komitmennya untuk menuntaskan pembangunan hunian tetap (huntap) paling lambat akhir 2025.
Sebanyak 241 jiwa saat ini masih bertahan di hunian darurat yang dibangun secara swadaya.
Sebagian besar bangunannya berdinding anyaman bambu, beratap terpal, dan berlantaikan tanah.
Saat musim hujan, ancaman longsor dan kebocoran atap menghantui. Sedangkan saat kemarau, panas menyengat dan minimnya air bersih jadi persoalan utama.
“Kami sudah mulai tahapan pembangunan huntap, dimulai dengan pematangan lahan dan pengerasan jalan agar akses kendaraan bisa masuk ke lokasi,” ujar Kepala DPRKPP Kabupaten Lebak, Lingga Segara, Sabtu (21/6/2025).
Lingga menjelaskan, bahwa pembangunan dilakukan secara bertahap karena kompleksnya tantangan teknis dan administrasi, mulai dari pembebasan lahan, penyesuaian desain rumah tahan bencana, hingga koordinasi lintas instansi.
“Kemarin Pak Gubernur dan Pak Bupati sudah meninjau langsung ke lapangan. Alhamdulillah pengerjaan infrastruktur dasar akan dimulai tahun ini. Semoga akhir 2025 semua bisa rampung,” jelasnya.
Menurutnya, proyek huntap ini melibatkan sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten. Setiap tahapan dikoordinasikan agar proses berjalan efisien, meski tetap harus mengikuti prosedur yang berlaku.
“Kami harap warga bersabar dan terus mendoakan agar ini bisa segera selesai. Membangun huntap butuh waktu dan proses, tapi kami tidak tinggal diam,” tambahnya.
Huntara yang awalnya hanya dirancang untuk digunakan selama dua tahun, kini telah ditempati selama lima tahun penuh.
Kondisi ini menambah urgensi penyelesaian huntap, agar warga yang kehilangan rumah akibat bencana bisa kembali hidup dengan lebih layak dan aman. (*/Sahrul).