Warga Lebak Sibuk Memulung, Si Kaya Santai Joget di Balai Hiburan

 

LEBAK – Kabupaten Lebak adalah salah satu wilayah yang terletak di Provinsi Banten.

Selain menjadi tempat berkunjung para wisatawan berwisata. Kabupaten Lebak juga sangat luar biasa dalam segi tatakrama antara si miskin dan si kaya.

Kalau ada kompetisi ketimpangan sosial terbaik, mungkin Lebak bisa masuk nominasi.

Di satu sisi, ada warga yang sibuk berburu sampah untuk bertahan hidup, sementara di sisi lain, kaum berduit asyik berjoget ria di balai hiburan, menikmati malam tanpa beban.

Pemandangan ini bukan fiksi, tapi realitas yang semakin nyata.

Sampah plastik, botol bekas, hingga kardus kini jadi barang berharga di mata masyarakat kecil.

Sementara itu, para orang kaya justru sibuk menikmati hidup dengan senyum lebar dan dompet tebal.

Di berbagai sudut kota, terlihat warga yang mengais sisa-sisa botol plastik, kardus, dan kaleng bekas dengan penuh harapan.

Bagi mereka, barang bekas ini lebih berharga dari janji-janji manis yang kerap diucapkan saat musim pemilu.

Kadir, seorang pemulung senior yang sudah puluhan tahun berburu sampah, mengaku bahwa profesinya kini lebih menantang daripada dulu.

“Sekarang nyari sampah juga saingan, soalnya makin banyak yang butuh. Kadang botol plastik aja rebutan, mirip rebutan kursi pas debat politik,” ujarnya sambil memasukkan botol bekas ke dalam karung.

Sementara itu, Bu Aminah, seorang ibu rumah tangga, mengatakan bahwa penghasilannya dari mengumpulkan sampah cukup untuk bertahan hidup asal tidak terlalu berharap bisa beli ayam atau daging.

“Kalau makan seadanya sih cukup, tapi kalau mau makan enak ya harus nunggu undangan hajatan,” katanya sambil terkekeh.

Di sisi lain kota, suasana jauh berbeda. Di balai hiburan, para orang kaya asyik bernyanyi, menikmati makanan mewah, dan bersenda gurau tanpa beban.

Ironisnya, sampah dari pesta mereka justru menjadi rezeki bagi warga yang hidup dari hasil memulung.

Plastik kemasan makanan, botol minuman, dan kardus dari barang-barang mahal menjadi target incaran para pencari nafkah.

“Kadang saya berpikir, hidup ini adil atau enggak ya? Mereka makan enak, kita nunggu sisaannya. Mereka minum di gelas kristal, kita kumpulin botol plastiknya,” keluh Kadir sambil tersenyum miris.

Fenomena ini bukan hal baru, tapi setiap tahun kondisinya makin terlihat jelas. Masyarakat kelas bawah harus berjuang lebih keras untuk sekadar bertahan hidup, sementara kelompok atas bisa menikmati hidup tanpa banyak kendala.

Pertanyaannya, sampai kapan ini akan terus terjadi? Apakah pemerintah akan turun tangan, atau justru sibuk dengan urusan lain yang lebih “menguntungkan”?

Yang jelas, bagi warga kecil, mereka tak punya waktu untuk menunggu solusi yang tak kunjung datang.

Sementara si kaya menikmati hidup, mereka tetap sibuk mengumpulkan sampah. Setidaknya, sampah bisa dijual. Janji manis? Belum tentu ada harganya. (*/Sahrul).

Comments (0)
Add Comment