MADINAH – Tradisi melaksanakan Arbain—yakni mengikuti shalat berjamaah sebanyak 40 waktu berturut-turut di Masjid Nabawi, Madinah—tetap menjadi magnet spiritual yang luar biasa bagi jemaah haji Indonesia.
Meski dasar hadis yang melandasinya berstatus daif (lemah), semangat jemaah untuk menyempurnakannya seolah tak pernah surut.
Bagi sebagian besar jemaah, motivasi terbesar mengejar Arbain adalah keutamaan luar biasa yang terkandung di dalamnya.
“Karena 40 waktu berjamaah yang dilakukan menghapus sifat kemunafikan dan terbebas dari neraka. Menggiurkan toh?” ujar Muhammad Luthfi Ridho, jemaah haji asal Jombang, Jawa Timur, seraya tertawa kecil saat ditemui di Hotel Rua Al Dhiyafah, Madinah.
Perjuangan Menjadi “Arbain Hunter”
Luthfi, yang tergabung dalam embarkasi Surabaya (SUB 40), menceritakan bagaimana ia dan rekan sekamarnya harus pintar-pintar mengatur waktu dan tenaga.
Julukan “Arbain hunter” pun melekat pada mereka yang selalu bergegas menuju masjid setiap kali azan hendak berkumandang.
Menurut Luthfi, tantangan terberat justru muncul pada waktu Subuh. Rasa lelah setelah seharian beraktivitas, bersilaturahmi, atau berburu oleh-oleh sering kali membuat jemaah rawan terlambat bangun. Ia bahkan sempat hampir kehilangan momentum tersebut.
-
Berpacu dengan Waktu: Luthfi mengisahkan pengalamannya berlari menuju Masjid Nabawi demi mengejar shalat berjamaah.
-
Durasi Shalat Subuh: Beruntung, durasi shalat Subuh di Masjid Nabawi relatif panjang. “Teman saya pernah memasang timer. Dari takbiratul ihram sampai salam, shalat Subuh di sana sekitar 15 menit karena imam membaca surat yang panjang,” tuturnya.
Perjuangan Luthfi membuahkan hasil. Ia berhasil menyelesaikan 40 waktu penuh sebelum bergeser ke Makkah.
Terganjal Jadwal dan Jam Keberangkatan Bus
Sayangnya, tidak semua jemaah seberuntung Luthfi. Banyak jemaah, khususnya gelombang pertama, terpaksa merelakan rangkaian Arbain mereka terputus karena jadwal keberangkatan bus menuju Makkah atau kepulangan ke Tanah Air yang sudah ketat.
“Banyak banget yang tidak lengkap. Ada yang baru dapat 38 waktu, sudah harus meluncur ke Makkah karena bus sudah menunggu,” kata Luthfi.
Hal senada dirasakan Hasan Basri, jemaah asal Pagutan, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kloternya harus merelakan Arbain kurang setengah hari karena harus bergeser ke Makkah setelah shalat Zuhur.
“Agar cukup Arbain, seharusnya berangkat setelah Ashar. Di kloter lain bahkan ada yang kurang tiga waktu atau sehari,” ungkap Hasan.
Imbauan Pembimbing Ibadah: Arbain Bukan Wajib Haji
Menanggapi fenomena ini, Musyrif Diny (Pembimbing Ibadah) Haji 2026, KH M Cholil Nafis, memberikan catatan penting.
Ia mengingatkan agar jemaah tidak salah kaprah dan memaksakan diri di tengah kondisi fisik yang lemah.
Catatan Penting: Arbain bukan merupakan bagian dari rukun maupun wajib haji.
Kiai Cholil menegaskan bahwa berdasarkan penelusuran, hadis terkait Arbain memang berstatus daif.
Kendati demikian, amalan ini tetap boleh dilakukan sebagai ibadah sunnah (fadhailul a’mal) untuk mendulang pahala di Tanah Suci, asalkan tidak memberatkan atau membahayakan kesehatan jemaah.
Di beberapa daerah di Indonesia, seperti Lombok, Arbain bahkan sudah menjadi tradisi turun-temurun yang diwariskan oleh para tuan guru.
Faktor sosiologis dan spiritual inilah yang membuat jemaah haji Indonesia selalu memiliki daya juang tinggi untuk menjadi “pemburu” Arbain di Kota Madinah. (*/Red/MCH-2026)