MADINAH – Di balik kelancaran ibadah haji 2026, ada pengabdian sunyi yang jarang tersorot. Tim Layanan Lansia dan Disabilitas Landis Sektor 5 Daker Makkah membuktikan haji bukan cuma soal logistik, tapi juga soal hati.
Selama hampir 2 bulan, mereka merawat 3.800 jemaah lansia, 800 di antaranya kondisi kritis, dengan pelayanan sepersonal anak kepada orang tuanya sendiri.
Dua petugas Landis Sektor 5, Abdul Aziz dan Muhammad Rosi, menceritakan suka duka tugas yang menguras tenaga sekaligus air mata.
“Kami rela nggak tidur demi jemaah bisa wukuf dengan tenang,” ujar Aziz.
Sektor 5 Makkah menaungi 18 hotel. Sebanyak 800 jemaah masuk kategori kritis dan wajib dikawal intensif, mulai umrah wajib sampai puncak haji.
“Kami fokus visitasi hotel, kontrol kesehatan rutin, senam lansia, sampai mengawal umrah wajib,” kata Aziz.
Berbeda dengan jemaah sehat yang bisa umrah 6 jam setelah tiba, lansia diberi waktu istirahat penuh 1 hari. Ini untuk menjaga kondisi fisik mereka sebelum masuk Masjidil Haram.
Momen paling mengharukan terjadi saat mendorong kursi roda jemaah ke Terminal Syib Amir untuk umrah wajib. Petugas mengawal dari hotel, naik bus, koordinasi kursi roda dengan Sektor Khusus, sampai memastikan jemaah bisa melihat Ka’bah.
“Banyak jemaah nangis haru begitu lihat Ka’bah. Mereka genggam tangan kami, ucapkan terima kasih. Rasanya plong dan lunas semua capek,” kenang Aziz.
Pelayanan Landis tidak berhenti di ibadah. Di hotel, petugas sering menggantikan peran anak yang tak bisa mendampingi orang tuanya ke Tanah Suci.
“Kami visitasi dan temukan jemaah mandiri tanpa keluarga. Mulai nyuapi makan, ganti popok, memandikan, sampai ceboki di kamar mandi. Ada juga jemaah stroke non-lansia yang tiap mau ke toilet pasti nelpon kami,” cerita Muhammad Rosi.
Awalnya, banyak jemaah malu karena baru kenal petugas. Tapi lewat pendekatan persuasif dan tulus, rasa canggung hilang.
“Lama-lama mereka terbuka. Sambil mandiin kami ngobrol soal anak cucu di rumah. Setelah itu malah mereka selalu minta bantuan kami lagi, karena nggak tahu bersandar ke siapa lagi selain petugas,” tambah Aziz.
Ujian paling berat terjadi saat program Safari Wukuf Lansia di fase Armuzna. Sektor 5 menempatkan 38 jemaah lansia kritis di hotel transit khusus selama 5-7 hari. Petugas patroli tiap 15 menit, waktu tidur cuma 1-2 jam per hari.
“Jemaah demensia aktif perilakunya gak terduga. Malam-malam keluar kamar cuma pakai celana pendek bilang mau pulang kampung. Ada yang bongkar koper jemaah lain, BAK/BAB sembarangan di koridor. Kami harus ekstra sabar, langsung bersihin biar tempat tetap suci dari najis,” urai Rosi.
Selain fisik, petugas juga jadi farmasis darurat. Obat jemaah ditandai pagi-siang-malam, lalu petugas keliling kamar memastikan semua diminum tepat waktu bekerja sama dengan tim medis kloter.
Kini jelang pemulangan, suasana hotel Sektor 5 dipenuhi haru. Jemaah lansia yang dirawat layaknya keluarga sendiri tak kuasa menahan tangis saat berpisah.
“Semua peserta safari wukuf lansia bilang terima kasih karena nggak merasa sendirian di Tanah Suci. Kami cuma ingin hak ibadah mereka terpenuhi, rukunnya sah, dan pulang ke Indonesia sebagai haji mabrur dan sehat,” pungkas Aziz. (*/Red/MCH-2026)