Deputi Menteri LH Irjend Pol Rizal Irawan: Operasi Modifikasi Cuaca di Kalsel dan Kalbar Berhasil Datangkan Hujan
JAKARTA — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau penyemaian hujan buatan untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Langkah ini berhasil memicu turunnya hujan di sejumlah area rawan di Kalbar seperti Sanggau, Putussibau, Kubu Raya, Pontianak, dan Kotawaringin Barat, Kobar (Kalteng) dan sedikit kawasan Kalimantan Selatan yang berbatasan dengan Kalteng pada Jumat (4/9/2026).
“Alhamdulillah operasi hujan buatan berhasil memicu hujan di sejumlah area rawan karhutla,” ujar Deputi Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup Irjen. Pol. Rizal Irawan, S.I.K., M.H. dalam keterangan pers Sabtu (5/9/2026).
Operasi hujan buatan ini merupakan kerjasama Kementerian Lingkungan Hidup, BMKG, BNPB dan TNI-AU difokuskan pada pembasahan ekosistem gambut, mendukung kerja pemadaman darat, serta menekan risiko perluasan api dan sebaran asap.
Menurut Rizal Irawan operasi modifikasi cuaca berlangsung Di Kalimantan Barat sejak 28 Agustus hingga 4 September 2026 dengan mengerahkan 10 sortie penerbangan dan menyemai 8.000 kilogram (8 ton) natrium klorida (NaCl).
Sementara di Kalimantan Tengah, operasi yang berjalan sejak 26 Agustus hingga 5 September 2026 telah mencatatkan 9 sortie penerbangan dengan total 7.200 kilogram (7,2 ton) NaCl hingga 4 September 2026.
”Operasi Modifikasi Cuaca merupakan intervensi penting untuk membasahi lahan gambut dan membantu tim pemadam darat. Namun, OMC harus berjalan sejajar dengan patroli lapangan, pemadaman darat, pengelolaan tata air, pelibatan masyarakat, hingga penegakan hukum,” ujar Rizal.
Setiap penerbangan disemaikan berdasarkan analisis presisi kondisi atmosfer, pertumbuhan awan potensial, arah dan kecepatan angin, serta sebaran titik panas (hotspot).
“Hujan yang turun di wilayah sasaran diharapkan efektif meningkatkan kelembapan tanah dan menghentikan potensi munculnya kembali titik api,” tambah Rizal.
Sebagai langkah keberlanjutan di tengah cuaca yang dinamis, OMC di Kalimantan Barat dilanjutkan bersama BNPB pada 3–9 September 2026. Sedangkan untuk wilayah Kalimantan Tengah, keberlanjutan operasi mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kehutanan.
Sementara itu Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menurunkan tingkat kewaspadaan.
Evaluasi berkala terus dilakukan mencakup data sortie, sebaran curah hujan, penurunan titik panas, hingga pemantauan kualitas udara di lapangan.
”Tujuan utama kami adalah mencegah kebakaran meluas, melindungi kesehatan masyarakat, dan memastikan kualitas udara tetap terjaga,” ujar Menteri Jumhur.
Ia menegaskan Kementerian Lingkungan Hidup bersama lembaga pemerintah lainnya terus bergotong royong untuk mengatasi masalah Karhutla.***