YOGYAKARTA— Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia, Puji Raharjo, menegaskan bahwa lulusan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) memiliki posisi strategis dalam ekosistem penyelenggaraan haji dan umrah nasional yang terus bertransformasi.
Penegasan tersebut disampaikan dalam kegiatan Pembekalan Calon Wisudawan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dengan mengangkat tema “Membangun Karier dan Pengabdian dalam Ekosistem Penyelenggaraan Haji dan Umrah”.
Dalam paparannya, Puji menjelaskan bahwa Kementerian Haji dan Umrah dibentuk untuk menghadirkan tata kelola penyelenggaraan haji dan umrah yang profesional, aman, transparan, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan jemaah.
Ia menambahkan bahwa tugas kementerian tidak sekadar memberangkatkan jemaah ke Tanah Suci, melainkan membangun keseluruhan ekosistem pelayanan, mulai dari edukasi, pembinaan, perlindungan, penyelenggaraan, pengawasan, hingga pengembangan sumber daya manusia (SDM).
Dirjen memaparkan bahwa ekosistem haji dan umrah melibatkan berbagai pihak, antara lain pemerintah, perguruan tinggi, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU), dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK), organisasi masyarakat, rumah sakit, lembaga keuangan syariah, industri digital, media, maskapai, perhotelan, katering, dan logistik.
Ia menyampaikan bahwa setiap tahun jutaan orang bergerak dalam ekosistem haji dan umrah dunia, dan sebagai negara pengirim jemaah terbesar, Indonesia membutuhkan SDM yang memiliki kemampuan multidisiplin.
Menurutnya, peluang karier tidak hanya berada di birokrasi pemerintahan, tetapi juga pada sektor pelayanan, pemberdayaan masyarakat, teknologi, komunikasi, kesehatan sosial, pendidikan, penelitian, hingga kewirausahaan.
Ia memproyeksikan bahwa penyelenggaraan haji ke depan akan semakin digital, berbasis data, ramah lanjut usia (lansia), ramah disabilitas, dan mengedepankan pelayanan yang berpusat pada kebutuhan jemaah.
Dirjen menekankan sejumlah karakter dan kompetensi utama yang perlu dimiliki lulusan agar dapat berkontribusi secara optimal, yaitu integritas dan akhlak, kemampuan bekerja dalam tim lintas profesi, penguasaan teknologi digital dan artificial intelligence, kemampuan komunikasi yang baik, penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris, kemampuan analisis data dan pemecahan masalah, sikap adaptif dan siap kerja lapangan, serta semangat belajar sepanjang hayat.
Di akhir paparan, Dirjen menyampaikan sejumlah pesan bagi calon wisudawan setelah memperoleh ijazah, di antaranya menyusun peta karier lima hingga sepuluh tahun ke depan, meningkatkan kompetensi melalui sertifikasi profesi, memperkuat kemampuan digital serta analisis data, membangun jejaring profesional sejak dini, aktif dalam organisasi profesi dan komunitas keilmuan, memperbanyak pengalaman lapangan melalui magang, kerja relawan, dan proyek sosial, serta membangun portofolio karya tanpa hanya mengandalkan indeks prestasi kumulatif (IPK).
“Ekosistem haji dan umrah sedang bertumbuh dan terus bertransformasi. Yang dibutuhkan bukan sekadar lulusan yang memiliki ijazah, tetapi insan profesional yang memiliki kompetensi, karakter, kepedulian, kemampuan berkolaborasi, dan keberanian menghadirkan inovasi,” ujar Dirjen dalam sambutannya.
Ia mengajak para calon wisudawan untuk menjadikan setiap pekerjaan sebagai bentuk pelayanan kepada umat dan ibadah kepada Allah SWT, serta menjadi bagian dari generasi yang membangun pelayanan haji dan umrah Indonesia menjadi yang terbaik di dunia.***