Hipertensi dan ISPA Mendominasi Kasus Kesehatan di Madinah, Petugas Kloter Diminta Batasi Aktivitas Jemaah Lansia dan Resiko Tinggi

MADINAH — Pelayanan kesehatan bagi jemaah haji Indonesia di Madinah terus dioptimalkan seiring bertambahnya jumlah kedatangan.

Memasuki hari ke-13 masa operasional haji, Minggu (3/5/2026), layanan medis berlangsung intensif mulai dari tingkat kloter, sektor, hingga fasilitas rujukan.

Berdasarkan data Kemenhaj, sebanyak 74.652 jemaah yang tergabung dalam 192 kelompok terbang (kloter) diberangkatkan ke Tanah Suci.

Jumlah tersebut setara sekitar 50 persen dari total rencana kedatangan jemaah haji Indonesia tahun ini.

Sedangkan pada layanan kesehatan, menurut data yang ada, kondisi di tingkat kloter tercatat ada 633 jemaah menjalani rawat jalan dalam sehari, dengan total kumulatif mencapai 5.155 kasus.

Tiga jenis penyakit yang paling banyak ditangani meliputi hipertensi primer sebanyak 736 kasus, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) atau flu sebanyak 493 kasus, serta myalgia atau nyeri otot sebanyak 331 kasus.

Sementara itu, layanan kesehatan di sektor mencatat empat kasus kegawatdaruratan pada hari Sabtu (2/5/2026), dengan total kumulatif mencapai 78 kasus.

Penyakit yang paling sering ditangani antara lain diare dan gastroenteritis sebanyak 17 kasus, hipertensi 15 kasus, serta flu biasa tujuh kasus.

Di tingkat Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), dilaporkan terdapat sembilan kasus layanan kegawatdaruratan dan rawat jalan dalam satu hari, dengan total kumulatif 76 kasus.

Penyakit jantung akibat hipertensi (hypertensive heart disease) menjadi diagnosis terbanyak yang ditangani di fasilitas ini.

Untuk kasus rujukan, sebanyak 42 jemaah masih menjalani perawatan di rumah sakit Arab Saudi, dengan total kumulatif rawat inap mencapai 93 kasus.

Pneumonia juga menjadi penyakit yang paling dominan pada kasus rawat inap tersebut.

Aktivitas layanan farmasi juga menunjukkan peningkatan signifikan. Dalam satu hari, tercatat 512 pelayanan obat diberikan kepada jemaah, dengan total kumulatif mencapai 4.170 layanan.

Tiga jenis obat yang paling banyak digunakan adalah Paracetamol 500 mg sebanyak 4.874 penggunaan, Amlodipin 5 mg sebanyak 1.932 penggunaan, dan Amoksisilin 500 mg sebanyak 1.752 penggunaan.

Di sisi lain, laporan juga mencatat adanya dua jemaah wafat pada hari Jum’at (1/5/2026). Dengan demikian, total jemaah wafat hingga kini mencapai tujuh orang.

Kepala Seksi Kesehatan KKHI Madinah, dr. Enny Nuryanti, mengingatkan pentingnya menjaga kondisi kesehatan di tengah meningkatnya jumlah jemaah haji.

Ia menegaskan agar petugas kesehatan di kloter dan sektor lebih aktif dalam memantau kondisi jemaah, khususnya yang memiliki risiko tinggi.

“Jemaah, terutama yang memiliki penyakit penyerta, harus dipastikan dalam kondisi terkontrol. Aktivitas perlu dibatasi agar tidak mengalami kelelahan menjelang puncak ibadah,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya penggunaan alat pelindung diri (APD) serta pendampingan bagi jemaah lanjut usia saat beraktivitas di luar hotel.

“Untuk jemaah lansia, sebaiknya tidak bepergian sendiri. Perlu ada pendamping agar lebih aman,” katanya.

Selain itu, bagi jemaah yang telah berada di Makkah, dr. Enny mengimbau agar tidak tergesa-gesa melaksanakan umrah setibanya di lokasi.

“Jemaah yang baru tiba sebaiknya beristirahat terlebih dahulu. Jika hendak melaksanakan umrah, disarankan pada malam hari agar lebih nyaman dan terhindar dari paparan suhu panas,” jelasnya. (*/MCH-2026)

hipertensiISPAJemaah haji IndonesiaMadinah
Comments (0)
Add Comment